Sebuah Perenungan

Rangkullah Mereka..

Posted in Akhlak by abihasan on 15 Nopember 2007

Kasih IbuSaudaraku,

Tak seorangpun yang akan mengingkari, betapa besar jasa seorang ibu dalam kehidupan seseorang. Tak seorangpun yang akan menutup mata, bahwa para alim ulama, tokoh-tokoh perjuangan, serta para ilmuwan dan penemu ternama terlahir dari rahim seorang wanita yang bernama ibu. Bisa anda bayangkan, bagaimana sabar dan tegarnya seorang ibu dalam membesarkan anak-anaknya, sejak dari dalam kandungan hingga kemudian terlahir ke dunia.

Bayangkan, bagaimana tidak pedulinya mereka terhadap rasa kantuk yang sangat, lelah dan kondisi kesehatan diri mereka sendiri, hanya untuk membuat si buah hati yang mungil tidur dengan nyenyak dan tidak menangis serta hilang lapar dan dahaganya di tengah malam. Sungguh, bukan untuk waktu yang singkat hal seperti ini mereka jalani. Tak lupa pula, segudang harapan dan cita-cita mulia mereka susun demi sang buah hati, agar kelak dapat menjadi seorang manusia yang berguna bagi agama dan bangsanya.

Lihatlah, bahwa tak seorangpun dari ibu dan ayah, sebagai orang tua, yang menginginkan anak-anaknya sama halnya seperti diri mereka. Mereka selalu berkeinginan agar anak-anaknya lebih baik daripada mereka dari segala sisi kehidupan. Intinya, tak seorangpun dari orang tua yang paham akan kehidupan, kecuali menginginkan kebahagiaan bagi anak-anaknya, dunia dan akhirat.

Namun, tidak sedikit saat ini, rasa kecewa dan sedih senantiasa menyelimuti hati keduanya. Terkadang, dalam usia senjanya, mereka merasa ditinggalkan, diacuhkan, bahkan seolah dilupakan. Ibu dan ayah, yang mampu membesarkan tujuh orang anak-anaknya dengan dekapan penuh kasih, tak mampu mendapati ketujuh orang anaknya sanggup untuk merawat mereka.

Dimana rasa cinta dan kasih kita? Sanggupkah kita membalas jasa-jasa mereka? Dalam membesarkan, merawat, dan mendidik kita dengan penuh cinta kasih? Masihkah lidah kita berkata “ah” di hadapannya? Atas segala permintaan baiknya? Sehingga terluka hatinya dan membuat keduanya mengucurkan air mata? Tidakkah kita segera menghampirinya, mengecup lembut kening keduanya, untuk sedikit meringankan beban di hatinya, dikarenakan tidak semua buah hati mungilnya dulu yang kini telah berusia dewasa, hidup sesuai dengan apa yang menjadi cita-cita mereka?

Saudaraku,

Hampirilah mereka, rangkullah keduanya, dan bermohonlah maaf kepada keduanya, atas banyak khilaf kita selama ini terhadap mereka. Bermohonlah keselamatan dan ampunan Allah untuk keduanya, atas segala kelemahan diri untuk mengasuh dan mendidik kita agar senantiasa cinta kepada Allah. Dekaplah mereka, dengan segala kelembutan dan rasa cinta, dalam nafas kehidupan mereka yang masih tersisa, dengan bakti dan memuliakan keduanya, dengan penuh kasih demi menggapai keridhoan Ilahi Robbiy…

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

21 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Nuruddin said, on 16 April 2009 at 1:21 PM

    Assalamu alaikum,

    Sungguh menggugah dan benar yang antum tulis…

    Salam kenal.

    • abihasan said, on 16 April 2009 at 5:13 PM

      Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

      Alhamdulillah..salam kenal kembali, saudaraku :)

  2. Nuruddin said, on 16 April 2009 at 11:02 AM

    Assalamu alaikum we. wb.

    Benar-benar menyentuh dan ini inspirasi saya buat bantu ekonomi ibu saya biar saya lagi pas-pasan…

    Terima kasih pak Rozy semoga amal ibadah anda diterima disisinya…

    Salam kenal dan persaudaraan

    • abihasan said, on 16 April 2009 at 5:15 PM

      Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

      Insya Allah..amin Allahumma amin. Alhamdulillah dan terima juga sudah singgah dan berbagi nasehat di sini, akhi Nuruddin.

      Salam kenal dan persaudaraan kembali dari Batam :)

  3. hanafi said, on 19 Nopember 2008 at 2:01 PM

    wa’alaikumussalam… terima kasih atas sharing nya mas.. ternyata kita memiliki perasaan yang sama mengenai ibu kita ya… :) Ibu adalah segalanya bagi saya.. cuma saya baru sempat membuat artikelnya.. keduluan deh sama mas Rozy… :)

  4. emir.abu.khalil said, on 17 Juni 2008 at 1:59 AM

    assalammualaikum…

    baik sungguh isinya, terima kasih kerna sudi berkongsi… jadi teringat akan ibu di rumah, in sya ALlah, ana kongsikan pula entri yang pernah ana tulis di blog.

    Cinta Seorang Ibu Kepada Anaknya

    juga Kasih Seorang Bapa

    ====
    #Wa ‘alaikumussalam akhi,
    Alhamdulillah, sama-sama akhi…Terima kasih juga telah berbagi di sini.. :)

  5. adikhresna said, on 24 April 2008 at 6:23 AM

    Assalamu’alaikum
    Mantabs

  6. Landy said, on 1 Februari 2008 at 2:51 AM

    Kangen ma bunda

  7. tantan said, on 26 Desember 2007 at 8:54 AM

    Yups, I love u mom, I love u dad…
    Ibu dan Ayah adalah cahaya kasih bagi anaknya. Ibu melengkapi Ayah dan Ayah melengkapi Ibu.

  8. abu nadhifah said, on 20 Nopember 2007 at 2:17 AM

    Allahummaghfirhuma, warhamhuma, kamaa robbayaani shoghiro..

    ====
    #Allahummaghfirlana dzunuubana waliwalidayna warhamhuma kama robbayaana shoghiiroo…amin Allahumma amin…

  9. Abdul Latip said, on 20 Nopember 2007 at 1:16 AM

    Asalamualakum dan salam perkenalan daripada saya. Membalas kunjungan saudara ke blog saya. Semoga sihat dan gembira selalu.

    Wa’alaikumussalam dan salam kenal kembali saudara abdul latif. Alhamdulillah..amin..insya Allah :)

  10. Iko said, on 19 Nopember 2007 at 9:20 AM

    Every day,…
    I Love u , my mom.

    Aku sayang sekali dengan Ibuku.

  11. atik said, on 19 Nopember 2007 at 6:50 AM

    assalamu’alaikum wr wb.

    T_T…..pak rozy, antum mengingatkan saya pada ibu dan bapak saya di rumah. Ingin, dan sangat ingin diri ini membahagiakan keduanya. Walau apapun yang harus saya lakukan asalkan iman dan islam tetap di hati, insya Alloh akan kulakukan untuk mereka. Antara bahagia dan sedih…sebagai seorang mahasiswa yang jauh dari orangtua tentunya akan sangt merindukan orangtuanya, ingin selalu bersendagurau bersama, duka bahagia bersama. Saya sering di telphon oleh ibu saya, tapi saya jarang nelphon mereka. Di saat mereka menelphon dan bilang kalau belum bisa mengirimkan uang saku bulanan, saya sedih sekali…bukan karena takut g bisa makan ( ya, meskipun itu salah satunya), namun saya lebih sedih lagi karena mereka kerja keras membanting tulang untuk saya dan kakak saya. Setiap kata yang diucapkan tak kuasa diri ini menahan tangis, menetskan air mata. Dan ibu pun selalu minta doa agar dimudahkan rejeki yang semoga halalan toyyiban. Saya sedih, sangt sedih…karena sudah 18 tahun terlewati belum sedikitpun saya membalas kebaikan mereka.

    Afwan, saya dah tidak bisa berkomen lebih banyak lagi. pengen nagis…..
    Semoga Alloh menetapkan iman dan islam pada keduanya. Amiin.

  12. icha said, on 18 Nopember 2007 at 8:32 PM

    hiks *nangis2Bombay* jadi inget almarhumah bunda tercinta … moga bahagia dialam sana…amiinn

  13. em said, on 16 Nopember 2007 at 11:43 PM

    pengin jadi ibu nih , Insya Allah ^_^

  14. udaeko said, on 16 Nopember 2007 at 1:23 PM

    Assalamu’alaikum…

    Makasih yaaa udah mampir di blog saya…
    Salam kenal juga yaaa…
    mmm, btw…artikelnya jadi mengingatkanku…
    dengan Bundo tercinta di kampuang nan jauah di mato ;-)
    hiks..hiks..hiks..

    Wassalam

  15. edratna said, on 16 Nopember 2007 at 11:26 AM

    Ibu akan selalu berharap yang terbaik bagi anak-anaknya.

    Namun ibu zaman sekarang juga tak bisa mengharap dapat ditunggu anak-anaknya saat usia tua. Mengapa? Karena anak-anak sekarang terpaksa harus bekerja keras, suami isteri bekerja, dan jalanan macet…bahkan terpaksa meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di rumah. Saya sempat diskusi dengan teman, bagaimana jika ada semacam perumahan atau asrama untuk orangtua, bisa dari berbagai kelas…jadi saat masih bekerja kita menabung, agar nanti pas hari tua tak mengganggu anak-anaknya…dan mengunjungi anaknya dengan senyum, membawa oleh-oleh buat cucu tersayang. Diluar waktu tsb, ibu yang udah lanjut usia bisa bergurau dengan teman seusianya.

    Pemikiran ini diilhami, karena saat ibu alm sakit, anak2ku masih kecil, juga anak-anak adik bungsuku. Saya pulang udah malam, sering tugas keluar kota…akhirnya ibu setuju untuk tinggal bersama adikku nomer dua, yang suami isteri jadi dosen di UNDIP, sehingga kemungkinan tugas keluar kota kecil peluangnya. Saya masih sedih ingat keadaan tsb, tapi apa boleh buat…dan saat ini saya juga memikirkan, disaat tua (sekarangpun udah tua), tak ingin menganggu anak-anak yang sedang mengejar karir, dan anak2nya sendiri masih kecil-kecil.

  16. Frida said, on 16 Nopember 2007 at 3:58 AM

    Benar sekali Kak Rozy…
    Ibu merupakan malaikat pelindung yg telah banyak memberi arti dalam perjalanan hidup kita, walau kini aku tidak dapat merangkulnya krn beliau telah tiada namun semangat dan semua yg telah dicurahkan seakan beliau ada didekat koe.smoga Allah SWT mengampuni dosanya dan memberikan tempat terbaik disana.amien

  17. mbak diah said, on 15 Nopember 2007 at 12:51 PM

    Assalamualaykum wr.wb

    Untuk mama tersayang walau jauh di mata namun dekat di hati, selalu ku mohon pd Allah SWT agar ekau selalu dalam lindungan dan kasih sayang-Nya. Untuk papa tersayang, semoga Allah SWT melimpahkan lindungan dan kasih sayang-Nya juga krn telah membesarkan aku dan telah memberikan aku seorang ibu yg sholeha…..amiin

    terima kasih artikelnya ya akhi

    wassalam,
    mbak diah

    Wa’alaikumussalam wr wb, Alhamdulillah..sama-sama Mbak Diah..

  18. barokah said, on 15 Nopember 2007 at 7:41 AM

    Sayang sekali ibuku…

    Wahai Tuhan..
    Engkau sejahterakanlah ibu dan ayahku biarpun dimana mereka berada.

    Ameen

    Amin Allahumma amin…

  19. landy said, on 15 Nopember 2007 at 4:48 AM

    Jadi inget Bunda di rumah,


Tinggalkan Balasan