Di Sudut Munajat
Dahulu, saat kesulitan menerpamu, engkau selalu bersegera mendatangi-Nya. Saat rasa gelisah, gundah dan kecewa menyelimutimu, engkau tersungkur menangis di hadapan-Nya. Begitu besar rasa ketergantunganmu kepada-Nya hingga tak satu detik pun rela kau lepaskan dalam pelukan hawa nafsu lalu berpaling dari-Nya. Rugi terasa bila terlewat saat-saat sepi bermohon mengadu kepada-Nya. Bak sebuah romantisme yang tak tertuang lewat goresan tinta, Syahdu, mendayu, membuat hati senantiasa merindu.
Namun ternyata, dirimu tak setegar seperti diduga. Jatuh layu selalu saja datang mendera. Engkau masih saja lincah bermain di kubangan lalai dan dosa. Tak pernah letih mengais sesuatu yang tak berguna. Rupanya anugerah, tak membuatmu semakin berkaca. Berkaca dalam bingkaian rasa hamba kepada-Nya. Rupanya engkau masih saja, mengikuti jejak seorang sa’labah. Seorang hamba yang melupakan kemurahan Tuhannya. Di saat susah, ia mengiba, penuh cita dan tekad dalam kebaikan membara. Namun, tatkala kenikmatan telah melimpah, semua seolah terlupa. Janji-janjinya dahulu seolah tak pernah ada.
Mungkin sebagian dari kita tak pernah lepas melakukannya. Saat dimana kesulitan menjepit langkah kehidupan, berupa kemiskinan, kesusahan, kegundahan ataupun hal yang butuh jalan keluar, baru menggiring kita pada sebuah rintihan penuh harap kepada-Nya. Namun, disaat rasa suka cita, kemenangan, dan prestasi gemilang menghampiri, kita pun kebanyakan menjadi lupa dan lalai kepada-Nya. Begitu tak sebandingnya anugerah kemurahan-Nya dengan pengorbanan waktu dan tenaga yang sedikit sekali untuk senantiasa mengingat keagungan-Nya.
Duhai keheningan malam,
Izinkan daku menarik selimutmu barang sekejap
Membuka tabirmu untuk sejenak menghadap
Menaruh dinginmu tanpa sebuah rasa khilaf
Guna habiskan waktuku dalam untaian ucap
Di sebuah sudut kerinduan munajat…
***








Assalamu’alaikum,
rasanya engga bosan-bosan baca tulisan di blog akh ini.
semoga di tahun-tahun kedepan kita dapat terus menjaga semangat ukhuwah .. amin..
Wassalamu’alaikum
Syukron, sudah mengingatkan kita semua, semoga Allah membasahi hati yang kering ini dengan limpahan karunia dan hidayahNya.
it’s time to praying.
Sudahkah anda sholat, saya belum
Assalammualaikum mas, apa kabar?…….merasa ramai bersama Allah dalam kesendirian.
bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
http://alief.wordpress.com/
Assalamualaykum wr.wb
Allah SWT memang sangat pemurah, Dia memberikan curahan nikmat bukan saja pada hamba-Nya yg bertaqwa, tp juga pada hamba-Nya yg ingkar. Dan Allah SWT tak pernah jenuh, menerima taubat dan penyesalan dari hamba²-Nya.
Semoga kita termasuk hamba Allah SWT yg disayang oleh-Nya…amiin
wassalam,
mbak diah
alhamdulillah..dapat pencerahan n ilmu baru…
Hmmm…kata2 yang sangat dalam dan bermakna…
oya met menjalankan ibadah puasa sunah…
salam maniz tuk keluarga
Assalamu’alaikum wr.wrb.
Untaian kata2 nya sangat mempunyai nilai sastra yg tinggi…sy suka tulisan2 mas…., banyak hikmah d pelajaran. Mudah2an kita menjadi sahabat yg baik di dunia dan di akhirat kelak. terimakasih udah mampir jg di blog sy.
Mengingat-NYA ketika kita butuh, dan melupakan-NYA ketika kita dalam kesenangan adalah sifat egois manusia. Untung ada artikel ini yang bisa mengingatkan ya …..
Indah banget Mas… bagus banget dijadikan bahan perenungan…
Btw, tampilan baru ya? Selamat…
ini namanya apa yaa..
sebuah ungkapan hati yang dalam jujur dan harap…
maklum OOT pak
salam kenal
Alhamdulillah, bisa vertamax nih, hehehehe
Waduh, agaknya, bener banget nih, Mas. Ketika kita larut dalam suka cita, Tuhan seringkali dilupakan, tapi ketika sedang susah, kita baru ingat Yang Di Atas. Kalau ini jadi budaya *halah* bisa2 Tuhan akan memberikan penderitaan terus kepada hamba-Nya, supaya selalu ingat.
Mendala, mencerahkan, mendayu … sangat puitik. Sejuk di hati, nayaman di pikiran. Teruslah menulis seperti ini. Salam.
Aku rindu kembali bermesraan dengan Allah Swt, ya Allah pilih aku menjadi kekasi-Mu