Sebuah Perenungan

Di Sudut Munajat

Posted in Akhlak by abihasan on 14 Desember 2007

Di Keheningan MalamDahulu, saat kesulitan menerpamu, engkau selalu bersegera mendatangi-Nya. Saat rasa gelisah,  gundah dan kecewa menyelimutimu, engkau tersungkur menangis di hadapan-Nya. Begitu besar rasa ketergantunganmu kepada-Nya hingga tak satu detik pun rela kau lepaskan dalam pelukan hawa nafsu lalu berpaling dari-Nya. Rugi terasa bila terlewat saat-saat sepi bermohon mengadu kepada-Nya. Bak sebuah romantisme yang tak tertuang lewat goresan tinta, Syahdu, mendayu, membuat hati senantiasa merindu.

Namun ternyata, dirimu tak setegar seperti diduga. Jatuh layu selalu saja datang mendera. Engkau masih saja lincah bermain di kubangan lalai dan dosa. Tak pernah letih mengais sesuatu yang tak berguna. Rupanya anugerah, tak membuatmu semakin berkaca. Berkaca dalam bingkaian rasa hamba kepada-Nya. Rupanya engkau masih saja, mengikuti jejak seorang sa’labah. Seorang hamba yang melupakan kemurahan Tuhannya. Di saat susah, ia mengiba, penuh cita dan tekad dalam kebaikan membara. Namun, tatkala kenikmatan telah melimpah, semua seolah terlupa. Janji-janjinya dahulu seolah tak pernah ada.

Mungkin sebagian dari kita tak pernah lepas melakukannya. Saat dimana kesulitan menjepit langkah kehidupan, berupa kemiskinan, kesusahan, kegundahan ataupun hal yang butuh jalan keluar, baru menggiring kita pada sebuah rintihan penuh harap kepada-Nya. Namun, disaat rasa suka cita, kemenangan, dan prestasi gemilang menghampiri, kita pun kebanyakan menjadi lupa dan lalai kepada-Nya. Begitu tak sebandingnya anugerah kemurahan-Nya dengan pengorbanan waktu dan tenaga yang sedikit sekali untuk senantiasa mengingat keagungan-Nya.

Duhai keheningan malam,

Izinkan daku menarik selimutmu barang sekejap
Membuka tabirmu untuk sejenak menghadap
Menaruh dinginmu tanpa sebuah rasa khilaf
Guna habiskan waktuku dalam untaian ucap
Di sebuah sudut kerinduan munajat…

***

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Ditandai sebagai:, , ,

15 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. selfpage said, on 1 Januari 2008 at 7:32 AM

    Assalamu’alaikum,
    rasanya engga bosan-bosan baca tulisan di blog akh ini.
    semoga di tahun-tahun kedepan kita dapat terus menjaga semangat ukhuwah .. amin..

    Wassalamu’alaikum

    Wa’alaikumussalam wr wb,
    Alhamdulillah, insya Allah..amin. Semoga senantiasa di ridhoi Allah SWT… :)

  2. Adhi Saputra said, on 28 Desember 2007 at 6:37 AM

    Syukron, sudah mengingatkan kita semua, semoga Allah membasahi hati yang kering ini dengan limpahan karunia dan hidayahNya.

    Alhamdulillah, sama2 Mas Adhi. Insya Allah…amin.. :)

  3. dodot said, on 26 Desember 2007 at 4:18 PM

    it’s time to praying.

    Sudahkah anda sholat, saya belum

  4. adit said, on 23 Desember 2007 at 4:45 AM

    Assalammualaikum mas, apa kabar?…….merasa ramai bersama Allah dalam kesendirian.

    Wa’alaikumussalam Mas Adit. Alhamdulillah saya sehat. Semoga Mas Adit juga ya. bener Mas..Ramai dalam kesendirian dikarenakan selalu ingat Allah..Semoga kita menjadi bagian orang2 itu..amin..

  5. alief said, on 20 Desember 2007 at 6:39 PM

    bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/ :)

  6. Mbak Diah said, on 20 Desember 2007 at 7:59 AM

    Assalamualaykum wr.wb

    Allah SWT memang sangat pemurah, Dia memberikan curahan nikmat bukan saja pada hamba-Nya yg bertaqwa, tp juga pada hamba-Nya yg ingkar. Dan Allah SWT tak pernah jenuh, menerima taubat dan penyesalan dari hamba²-Nya.

    Semoga kita termasuk hamba Allah SWT yg disayang oleh-Nya…amiin

    wassalam,
    mbak diah

  7. eNPe said, on 18 Desember 2007 at 9:45 AM

    alhamdulillah..dapat pencerahan n ilmu baru…

  8. Frida said, on 18 Desember 2007 at 4:36 AM

    Hmmm…kata2 yang sangat dalam dan bermakna…
    oya met menjalankan ibadah puasa sunah…
    salam maniz tuk keluarga

    Alhamdulillah…Sama2 Mbak Frida :)

  9. al said, on 17 Desember 2007 at 9:11 AM

    Assalamu’alaikum wr.wrb.
    Untaian kata2 nya sangat mempunyai nilai sastra yg tinggi…sy suka tulisan2 mas…., banyak hikmah d pelajaran. Mudah2an kita menjadi sahabat yg baik di dunia dan di akhirat kelak. terimakasih udah mampir jg di blog sy.

    Wa’alaikumussalam wr wb Mas Al (boleh saya panggil begitu? :) ). Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang Maha Memberi Karunia..Insya Allah, kita bisa saling ingat mengingatkan satu sama lain, khususnya diri sendiri :)

  10. aisalwa said, on 16 Desember 2007 at 7:32 AM

    Mengingat-NYA ketika kita butuh, dan melupakan-NYA ketika kita dalam kesenangan adalah sifat egois manusia. Untung ada artikel ini yang bisa mengingatkan ya …..

    :)

  11. Deddy said, on 15 Desember 2007 at 11:17 PM

    Indah banget Mas… bagus banget dijadikan bahan perenungan…
    Btw, tampilan baru ya? Selamat…

  12. Kurt said, on 15 Desember 2007 at 9:31 AM

    ini namanya apa yaa..
    sebuah ungkapan hati yang dalam jujur dan harap…
    maklum OOT pak

    salam kenal

  13. Sawali Tuhusetya said, on 14 Desember 2007 at 2:40 PM

    Alhamdulillah, bisa vertamax nih, hehehehe :lol:
    Waduh, agaknya, bener banget nih, Mas. Ketika kita larut dalam suka cita, Tuhan seringkali dilupakan, tapi ketika sedang susah, kita baru ingat Yang Di Atas. Kalau ini jadi budaya *halah* bisa2 Tuhan akan memberikan penderitaan terus kepada hamba-Nya, supaya selalu ingat.

    Iya Pak Sawali. Semoga Allah pilih kita jadi bagian orang2 yang selalu ingat kepada-nya dimanapun dan kapanpun…amin..

  14. Ersis WA said, on 14 Desember 2007 at 12:33 PM

    Mendala, mencerahkan, mendayu … sangat puitik. Sejuk di hati, nayaman di pikiran. Teruslah menulis seperti ini. Salam.

    Alhamdulillah…Insya Allah pak Ersis..doakan ya Pak :) . tapi, kalo boleh tahu mendala itu apa ya Pak? Salam

  15. landy said, on 14 Desember 2007 at 11:57 AM

    Aku rindu kembali bermesraan dengan Allah Swt, ya Allah pilih aku menjadi kekasi-Mu

    Amin…


Tinggalkan Balasan