Dalam hidup, ada saat dimana kita akan berhadapan dengan banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Tidak selamanya jalanan yang kita lalui tampak lurus tanpa lubang dan kelok. Selalu saja ada ujian yang singgah, sebagai bagian yang sejatinya dapat mendewasakan diri kita dalam menapaki langkah-langkah hidup yang terus kita ayun. Saudaraku, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah sebuah guci yang cantik yang terpajang di sudut ruangan. Si guci pada awalnya tidaklah tampak cantik seperti yang kita lihat menghiasi sudut ruang tamu di rumah kita.
Dia sebelumnya hanyalah merupakan sebongkah tanah liat yang di bentuk dari beberapa proses “menyakitkan”. Kenapa “menyakitkan”? Bayangkan saja, dalam proses awal pembuatannya, si guci telah beberapa kali mengalami tempaan yang keras. Dihempas diatas permukaan landasan cetakan yang berputar, dipukul-pukul badannya, lalu dibuat berdiri dengan cara ditarik ke sisi atas sesuai keinginan sang pengrajin.
Tak lupa, badan si guci pun diguyur dengan air. Untuk sesaat, sang pengrajin memandangi dengan seksama bentuk si guci apakah bentuknya sudah sempurna atau belum. Jika belum, si guci pun kembali dibuat sakit dan menderita karena tubuhnya dipukul-pukul dan diremas kembali ke bentuk semula, berupa onggokan tanah liat. Namun, jika bentuknya telah sesuai dengan keinginan sang pengrajin, si guci pun bisa bernafas lega sesaat namun akan segera menuju ke fase “menyakitkan” berikutnya, dijemur dibawah terik matahari agar tubuh si guci bisa segera kering.
Ujian bagi si guci pun tidak selesai sampai disitu. Setelah kering, si guci pun dibawa ke sebuah tempat yang lebih panas dan menyayat, berupa tempat pembakaran terakhir. Bisa kita bayangkan, bagaimana panasnya api. Jangankan terjilat olehnya, mendekat saja dalam liukan nyalanya kita sudah merasa kepanasan. Tapi itulah tahap menyakitkan terakhir yang dirasakan oleh si guci sebelum akhirnya ia dihias dengan warna warni yang indah, yang membuatnya menjadi kelihatan menarik dipandang mata dan menawan hati saat dipajang, yang kemudian menghias sudut ruang tamu rumah kita.
Saudaraku,
Keceriaan itu kadangkala akan ditemani oleh kekecewaan. Tawa yang riang, tidak akan terasa lengkap tanpa dihiasi oleh air mata kesedihan. Seiring bertambahnya usia dan berkurangnya jatah umur kita, ujian akan selalu hadir dalam kehidupan. Walau demikian, tetaplah tersenyum sebagai langkah untuk sedikit meringankan beban di hati kita. Karena dengan begitu, kita telah berusaha untuk membuka satu pintu kebahagiaan. Tetaplah tegar dalam rasa keimanan dan kehambaan kepada-Nya dan lanjutkan berdo’a, semoga kekuatan dan ridho-Nya senantiasa meliputi diri dan hati agar terjauh dari rasa putus asa akan curahan rahmat-Nya.
Tidaklah ujian itu melebihi kapasitas diri kita sebagai insan yang mengaku beriman dan cinta kepada-Nya. Dan sesungguhnya, sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan.
Semoga setiap ujian yang hadir dalam hidup kita, semakin menambah rasa keimanan dan penghambaan kepada-Nya, menambah rasa syukur dan usaha untuk semakin mengenal-Nya, mematangkan diri dan jiwa menjadi lebih baik dalam mengarungi samudera kehidupan, sebagaimana kisah perjalanan diri sebuah guci di atas.
Semoga setiap ujian yang hadir, merupakan sebuah bentuk pembersihan diri kita dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan, supaya kelak menjadi hamba yang kembali dalam pangkuan ridho-Nya dan untuk kembali menyadarkan diri kita akan ke-Maha Besaran Allah SWT, dimana sesungguhnya hanya Dia-lah satu-satunya tempat kembali dan bergantung semua makhluk.
Wallahu a’lam















RSS - Posts


subhanallah…
terkadang kita dg ujian yg kecil sudah merasa putus asa,
seperti sudah ga sanggup ngejalanin’y
ngerasa ujian itu sangat berat.
ya Allah aku kalah dg sebuah guci
padahal dibalik itu semua masih blm ada apa-apanya dibandingkan dengan sebuah pengorbanan si guci untuk mencapai kesempurnaan.
Aslkum,….
senegnya yach bsa selalu mengingat sebuah “guci” ntu…..
prosees pembwtannnya yg panjang n kesabrannya yg dalm….
Assalamu’alaikum,afwan baru masuk,dan semoga ini adalah hidayah Allah atas kraguan dalam hatiku,salam kenal dan semoga barakah,
terima kasih sudah silaturahmi
sering – sering silaturahmi ya
dalam banget , menusuk kalbu
o iya saya mau ngundang buat baca puisi ini
makasih
http://realylife.wordpress.com/2007/12/27/aku-kecil-ya-allah/
Assalaamu ‘alaikum
Cara menyampaikan sebuah nasihat yang sangat mudah dicerna. Mata saya khusyuk membaca kata demi kata postingan ini… Alhamdulillah, saya dapat oleh-oleh lagi.
Allahu Ya Karim….
Subhanallah…..
sungguh indah membacanya…..teruskan saudaraku…….
inspiratif sekali tulisannya.
terima kasih sudah berkunjunga ke blogku
bermain ke sini. ortu saya suka dengan guci. selain menarik, juga indah
orang yang bijak, selalunya dia dapat mengambil IKTIBAR & hikmah dari setiap kejadian…Hikmah itulah yang membuat dirinya menjadi manusia yang lebih baik, dan lembut hatinya…
Mari kita lihat dunia ini dari sisi dimana kita dapat mengambil hikmah yang terdalam…jangan berfikir guna nafsu..berfikirlah guna hati, niscaya engkau akan mendapatkan hikmah2 dari Tuhanmu…
Salam mas Rozy..
perumpamaan sederhana tp sangat mendalam
btw, kaifa haluk pak? lama ndak jalan2 ke sini :”>
Assalamu’alaikum
Subhanalloh sangat menyentuh sekali……..!!
semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya. terutama pada diri Sy sendiri.
Lam kenal….dari Sy…
introspeksi ..
kembali menata hati
menata pikiran
ditutrkan dalam perkataan
dan dilaksanakan dalam perbuatan..
salam kenal pak
*salaman dari seorang new bie*
penecerahan yang berkesan, terutama buat ane yang akhir2 ini agak sedikit “layu”………
Asl…., Alhamdulillah sehat2 smua jg kel. , amin…, sebaliknya mas gimana ?
Assalamu’alaikum
tulisan-tulisan disini bagus-bagus, enak dibaca dan mencerahkan.
Salam kenal,
Selamat tahun baru 1429 Hijriyah
semoga tetap berkarya, blognya saya link, terima kasih.
wasssalam
aku ingin seperti guci itu,……
dengan tetap berproses dalam kehidupan………..
Bicara tentang guci, dari awal sampai akhir nasibnya cuma sebagai objek penderita. Penulis boleh saja bilang, bahwa setelah proses yang “menyakitkan” ketika ditempa, kemudian penderitaannya berakhir dan digantikan masa “bahagia” ketika dia dihias dengan warna-warni yang indah dan bla bla bla.
Si penulis benar-benar semena-mena dari awal sampai akhir. Mempermainkan “nasib” si guci dan akal sehat pembaca, dengan menentukan secara sepihak kapan si guci disebut dianggap tersiksa dan sebaliknya kapan dia disebut bahagia. Sorry, secara jujur harus kukatakan, analogi guci ini tidak berhasil menggambarkan pesan yang ingin disampaikan si penulis artikelnya sendiri.
btw, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas terbaca di ujung artikel ini. Trims untuk itu.
Horas
Subhanallah… bagusnya. Andai semua orang mampu mengambil hikmah/pelajaran dari apappun yang ia jumpai, spt penulis artikel ini, saya yakin indonesia mampu bangkit dari keterpurukannya..
Saya sedang berusaha untuk selalu tegar setiap kali cobaan datang. Terimakasih atas artikelnya.
Assl…ketika seseorang mendapat ujian kesengsaraan, kemiskinan, kepedihan,kelaparan,kehilangan, pkoknya yg bisa mengingatkan kita kpd-NYA, seringkali kita bisa menghadapinya, namun sebaliknya yg paling berbahaya adlh ujian kesenangan,ujian harta, tahta, atau syahwat wanita….,inilah bentuk ujian2 yg melenakan seseorang, hingga kita terjerumus kepd penghamba-an selain dari Allah…moga kita tetap istiqomah…thanks banget dah mampir di blog sy…kbr Alhamdulillah baek2 doanya sy aminkan….sebalik mas Fahkru sehat ?
Assalamualaykum wr.wb
Inilah yg sedang mbak latihan. Tidak mudah, butuh proses untuk bersabar dlm menghadapi cobaan.
Ketika masa cobaan sedih telah berlalu, barulah kita bisa melihat hikmah di balik cobaan itu. contohnya saja, mbak kerja di sebuah perusahaan kecil, belum lama kerja, pemilik perusahaan meninggal dunia, maka perusahaan kecil itu pun koleps (ditutup), luar biasa sedih sekali mbak saat itu.
Tapi tidak lama setelah itu, mbak bekerja di salah satu perusahaan yg sudah maju, karir mbak meningkat, di sinilah mbak menyadari cobaan sebelumnya, sungguh kita harus pintar melihat hikmah dari sebuah cobaan dan bukan hanya sekedar kulitnya saja.
Namun untuk belajar hikmah cobaan dan kesabaran tidak lah mudah, saat ini pun mbak masih latihan, mohon doa dari akhi agar mbak bisa sabar dan sukses dlm latihan ini.
wassalam,
mbak diah
Semoga setiap ujian yang hadir dalam hidup kita, semakin menambah rasa keimanan dan penghambaan kepada-Nya, menambah rasa syukur dan usaha untuk semakin mengenal-Nya, mematangkan diri dan jiwa menjadi lebih baik dalam mengarungi samudera kehidupan, sebagaimana kisah perjalanan diri sebuah guci di atas.
Kalimat2 diatas banyak memberikan manfaat ^_^
Thx a lot..
met tahun baru…
it’s time to change our life
keren2…….sangat tersentuh….hiks
Selamat tahun baru hijriyah 1429 H.
Maaf baru sempat mampir lagi mas…
Tulisan ini sangat inspiratif untuk memahami sebuah proses kehidupan hasil belajar dari Kendi atau keramik.
Mas maaf saya belum sempat memarkir tulisan. Tapi Insya Allah seperti yang saya janjikan akan saya parkir yang jelas bukan di Lapangan Parkir Senayan heheh
Semoga setiap proses yang [pasti] menyisakan lubang-lubang [dalam hal jalan] dan ketidak-sempurnaan bentuk [dalam hal guci] senantiasa dipoles oleh-NYA melalui kesadaran kita akan setiap teguran-NYA.
Selamat Tahun baru hijriah 1429 H
saya suka tulisan yang bersifat introspektif seperti ini, karena menyadarkan kita bahwa banyak sekali kelebihan yang kita punya, namun banyak pula kekurangan kita, diantara kekurangan-kelibihan kita miliki terdapat hamparan objek yang dapat dijadikan contoh sebagai pelajaran yang sangat mengena pula berharga asalkan kita memikirkannya.
makasih tuk postingannya.
pecahnya sebuah guci pun bisa kita ambil hikmahnya… bahwasanya tidak ada yang kekal di dunia ini selain ketidakkekalan…
Sepakat banget Mas Rozy. Guci sangat tepat dijadikan sebagai analogi untuk menggambarkan jerasnya perjuangan hidup manusia dalam menggapai harapan dan impian. Hidup bagaikan *halah sok tahu yak* cakra manggilingan alias roda yang terus berputar, sesekali di atas, sesekali di bawah. Itulah sebabnya kita diajarkan untuk hidup bersahaja, tidak berlebihan. Semoga kita bisa menjadi guci2 yang sipa menghadapi kerasnya tantangan hidup.
Selamat Tahun Baru, Mas, semoga 2008 menjadi awal yang baik utk melakukan sebuah perubahan. Sukses buat Mas Rozy.
“Semoga setiap ujian yang hadir, merupakan sebuah bentuk membersihan diri kita dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan”
Ini yang selalu saya ingat dan saya jadikan pegangan disaat mendapat cobaan, bahwa dengan kesabaran Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.
Syukron n salam kenal
Sangat menyentuh…
Berawal dari sebuah guci…
Begitu rumitnya pembuatan sebuah guci.
Begitu selesai guci menjadi sebuah benda yang sangat indah, namun rapuh. Harus hati-hati dalam merawatnya. Tersenggol sedikit maka pecahlah ia.