Perumpamaan Lalat dan Lebah

bee.jpg 

Lalat adalah hewan yang senantiasa menyukai tempat-tampat yang kotor dan berbau busuk. Di mana ada sampah atau bangkai, di sana ada lalat. Tidak hanya satu atau dua ekor lalat yang mendatangi, bahkan saking ramainya mereka untuk berebut tempat, suaranya pun terdengar kencang, seolah mereka sedang membicarakan nikmatnya mendatangi bangkai itu dan menjadikannya sebagai perbincangan menarik.

Setelah mereka puas mendatangi satu bangkai, mereka akan beralih untuk mencari bangkai yang lain dengan masih membawa bekas dan bau busuk dari bangkai pertama yang mereka datangi. Jika tidak ketemu, mereka akan menghampiri tempat-tempat yang bersih atau makanan yang terbuka namun dalam rangka untuk menyebarkan bibit penyakit kepada siapapun. Setiap orangpun akan merasa jijik terhadapnya.

Berbeda sekali dengan lebah. Lebah adalah hewan yang sangat menyukai keindahan dan kemanfaatan. Mereka selalu dan hanya akan mendatangi kembang-kembang indah yang tengah bermekaran. Mereka hinggap di sana, lalu mengambil sari pati dari setiap kembang yang mereka singgahi untuk kemudian dijadikan bahan baku pembuatan madu. Apa yang mereka ambil dari satu kembang ke kembang yang lain merupakan bahan terbaik yang akan menghasilkan madu yang bermanfaat dan bisa dijadikan sebagai obat berbagai penyakit bagi manusia.

Setiap hari, yang terlintas di benak sang lebah adalah menghasilkan madu dengan kualitas terbaik hasil olahan sendiri dengan izin Alloh SWT. Adapun sengat yang melekat di tubuh mereka bukan merupakan alat untuk menyerang musuh, melainkan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari berbagai gangguan.

Beruntunglah menjadi bagian dari komunitas lebah, sebagai perumpamaan orang-orang yang selalu senang berada di majelis-majelis ilmu dan dzikir, yang mengambil sari patinya untuk kemudian dijadikan sebagai bahan beramal kebaikan, sebagai hujjah untuk menolak kebatilan dan keingkaran terhadap Alloh SWT dan Rosul-Nya, dan orang pundapat mengambil banyak manfaat darinya, dunia akhirat.

Dan merugilah menjadi bagian dari komunitas lalat, sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang yang lebih senang mendatangi tempat-tempat maksiat, yang tidak mendatangkan sesuatupun kecuali keburukan dan kebahagiaan semu, dan orang-orangpun pada akhirnya enggan mendekati.

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

7 thoughts on “Perumpamaan Lalat dan Lebah

  1. @ Kurt,

    Wa’alaikumussalam wr wb Pak Kurtubi,

    Alhamdulillah…saya sehat wal afiat dan jumpa lagi kita ya Pak 🙂 . Smoga Pak Kurtubi juga demikian.
    Renyah? [kayak kerupuk aja :mrgreen: ]. Terima kasih atas kunjungannya ya Pak dan salam silaturrahim 😉

    @ Qahar,

    Alhamdulillah Mas Qahar,
    Kita sama-sama berdo’a saja ya mas, semoga Allah SWT masukan kita dalam golongan orang-orang yg berdzikir

  2. Saya terkadang herakn, banyak orangyang berada pada perumpamaan lalat, tapi ia merasa seperti lebah.

    bahkan mungkin, saya juga termasuk.. wallahu a’lamu bi shawab.. terima kasih mas Fakhrur atas sedikit ilmu yang diberikan..

  3. assalaamu’alaikum wr. wb.

    salam jumpa lagi, lama tak cari2 web ini, alhamdulillah baru ketemu Pak Fakhrurrozy semoga sehat wal’afiat. Tulisan renyah dan mendalam… 😀

  4. Afwan,saudaraku semuanya,punya doa untuk menhhilangkan kesedihan tidak?

    Saudaraku Mas Yasin,
    Cobalah baca do’a ini; “Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari resah dan gelisah, dari sedih dan derita, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pelit dan pengecut, dan dari lilitan hutang dan tekanan orang”.
    Cobalah membacanya dengan khusyuk dan penuh harap. Semoga Allah mengangkat kesedihan itu dan menggantinya dengan kesejukan, kelapangan dan kebahagiaan…Insya Allah 🙂

  5. ## satu ketika, Rasululah yang sedang berjalan2 dengan para sahabatnya bertemu dengan bangkai kambing. Kemudian beliau bertanya kepada Sahabatnya: “apakah kamu mau bila diberi bangkai kambing itu?”. “Tentu tidak Ya RAsulullah” jawab Sahabat. Bersabda RAsulullah yang maksudnya: “dunia dan seisinya lebih rendah dari itu”.
    (maaf saya belum menemukan teks asli dari hadis diatas, itu saya ceritakan ulang dari kuliah Abuya yang saya dengar 2 tahun yang lalu)

    Hiks..sayang sekali manusia mengangap dunia itu besar dan indah. Hingga lupa akhirat 😦

  6. Alhamdulillah, sama-sama saudara Elli,
    Semoga kita dapat memetik hikmah untuk setiap hal yg Allah SWT telah ciptakan di alam semesta ini..Insya Allah

    Salam kembali 🙂

  7. terima kasih dengan perumpamaan nya pak…, andai saja manusia bisa mengambil hikmah dari perempamaan itu …….

    salam
    Elli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s