Rasa Syukur Yang Berbuah Amal Soleh

Sesungguhnya manusia terlahir dengan potensi kelebihan juga kekurangan, baik yang terlahir sempurna maupun yang cacat secara lahiriah. Alkisah, saya memiliki seorang teman pria yang tuna netra bawaan sejak lahir. Beliau berusia jauh di atas saya. Belum lama ini beliau akhirnya memiliki seorang pasangan hidup lewat pernikahan, seorang wanita yang berjiwa besar dan lapang dada yang ikhlas melepaskan ego pribadinya hingga bersedia menerima segala kekurangan teman saya ini.

Si wanita adalah seorang yang normal secara fisik dan mapan secara finansial. Sungguh, jika sekiranya kita berada pada posisi si wanita, sudah dapat dipastikan kita tidak akan siap menerima si pria, teman saya ini sebagai pendamping hidup dengan alasan cacat yang ia derita. Apa yang menjadi pertimbangan si wanita sehingga bersedia menerima teman saya ini sebagai pendamping hidupnya? Sebenarnya saya tidak tahu pasti hal apa yang menjadi pertimbangan si wanita hingga bersedia menjadikan teman saya ini sebagai pendamping hidupnya.

Tapi, jika melihat profil teman saya yang tuna netra ini, maka dapat disimpulkan bahwa si wanita lebih memilihnya atas dasar agama dan ilmunya. Memang sesungguhnya, meskipun teman saya ini seorang tuna netra, namun dari banyak sisi, beliau adalah seorang yang memiliki banyak kelebihan. Beliau adalah seorang yang mandiri, seolah-olah cacat yang ada pada dirinya bukan merupakan hambatan dan sebagai alasan untuk patah semangat, merasa tak berdaya serta mengharap belas kasihan orang lain.

Beliau juga seorang yang memiliki hafalan banyak surat dari Al Qur’an. Beliau termasuk seorang yang menyenangi majelis-majelis dzikir. Ketika beliau berada dalam majelis khotmil Qur’an, bermodal Al Qur’an Braile yang ada di tangannya, dengan lancar dan fasihnya beliau membaca satu-persatu ayat Al qur’an yang ada di dalamnya dengan cara menyentuhkan jari telunjuknya pada tiap baris ayat dengan huruf Braile yang timbul pada permukaan halaman Al Qur’an Braile-nya.

Sungguh, saya melihat beliau begitu menikmati keadaannya meski tidak dianugerahkan kesempurnaan secara lahiriah. Hal itu terlihat jelas dalam kesehariannya. Selain itu, dalam hal pergaulan, beliau termasuk orang yang supel. Beliau banyak mengenal dan dikenal banyak orang. Beliau suka memudahkan urusan orang lain dan suka menawarkan dirinya untuk mengurus banyak hal. Tidak jarang, dan terkadang saya sendiri heran, saat menggunakan jasa beliau untuk mengurus keperluan perihal pengurusan surat menyurat, orang-orang yang berada di instansi terkait terlihat akrab sekali dengan beliau seolah-olah sudah seperti teman sepermainan sehari-hari.

Itulah sekilas cerita tentang seorang teman, yang meskipun terlahir tak sempurna secara fisik, tidak lengkap secara panca indera, namun rasa syukurnya sebagai hamba Allah dan kesadarannya bahwa tak satupun hal yang Allah SWT ciptakan merupakan sebuah kesia-siaan, menjadikannya melupakan segala kekurangan yang ada pada dirinya dan senantiasa berbuat yang terbaik layaknya seorang yang terlahir tanpa cacat.

Jika sesungguhnya manusia terlahir semata-mata dalam rangka berkhidmat dan beribadah pada Allah SWT, adakah kesempurnaan lahiriah telah melupakan hakikat penciptaannya dan memalingkan dirinya untuk taat serta lebih memilih mengikuti hawa nafsunya?

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Interaksi Sosial

Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan keragaman bangsa serta suku adalah dalam rangka saling kenal mengenal satu sama lain. Seorang alim pernah berkata dalam salah satu tausiyahnya bahwa kesempurnaan fitrah seseorang bisa dilihat dari mampunya ia berinteraksi dengan sesama manusia. Manusia merupakan makhluk sosial yang tak akan lepas dari sebuah keadaan yang bernama interaksi.

Begitu luasnya daratan serta lautan yang membentang dari timur hingga barat yang sebagiannya dihuni oleh manusia dengan ragam peradaban serta adat istiadat. Bermulanya peradaban suatu masyarakat tentu tidak terlepas dari adanya interaksi sosial yang terjadi diantara manusia, baik diantara anggota masyarakat dalam satu komunitas maupun interaksi yang terjadi dengan anggota masyarakat lain diluar komunitasnya.

Keunikan suatu peradaban masyarakat yang satu dengan yang lainnya telah menghasilkan begitu banyaknya ragam kekayaan dalam budaya, seperti banyaknya jenis bahasa yang digunakan sebagai salah satu syarat interaksi. Interaksi yang terjadi antar sesama manusia dengan latar belakang yang berbeda, baik budaya maupun karakter pribadi yang melekat pada diri masing-masing sudah pasti suatu ketika akan menimbulkan gesekan-gesekan, bisa berupa kesalah pahaman dalam memandang suatu keadaan ataupun perbedaan sudut pandang. Namun dalam islam, kenyataan seperti ini tidaklah menjadikan seorang surut dan urung niat serta lebih memilih menyendiri daripada berinteraksi dengan sesama.

Jika manusia bisa melihat bahwa gesekan-gesekan yang terjadi dalam berinteraksi sosial merupakan sebagai bahan pelajaran dan ujian kesabaran serta memandangnya sebagai sebuah tantangan dalam kehidupan yang majemuk, maka hal ini merupakan sebuah keutamaan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya bahwa seorang mukmin yang bergaul dan bersabar terhadap gangguan manusia, lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar dalam menghadapi gangguan mereka (HR. Ahmad dan At tirmidzi).

Siapapun yang mengerti makna kemanfaatan tentu tidak akan menjadikan segala sesuatunya menjadi sia-sia. Mereka selalu berharap bahwa dalam setiap interaksi sosial yang terjadi terdapat nilai ibadah serta berharap akan menyebarnya nilai-nilai positif dalam tiap diri yang terlibat didalamnya. Dan Pada akhirnya, apa yang dihasilkan dari sebuah interaksi dapat membangun semangat keimanan dalam mengajak manusia menuju ke jalan yang diridhoi Allah SWT serta munculnya rasa kasih sayang, tolong menolong dalam hal kebaikan dan perbaikan serta persaudaraan sehingga semakin meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah SWT dari waktu ke waktu.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Allah SWT Maha Indah

Allah Maha Indah

Allah Maha Indah1

Allah Maha Indah2

Yellow Salsify

“Sesungguhnya Allah SWT Maha Indah dan menyukai keindahan” (Hadits)

 

::Foto
Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

 image.jpg

Saudaraku, islam sampai kepada kita saat ini tidak lain berkat jasa Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai sosok penyampai risalah Allah SWT yang benar dan di ridhoi. Dan nanti di padang mahsyar, tiap umat islam pasti akan meminta syafa’at dari beliau SAW dan menginginkan berada di barisan beliau SAW. Namun, pengakuan tidaklah cukup sekedar pengakuan. Pasti yang mengaku umat beliau SAW akan berusaha mengikuti jejak beliau dengan jalan mengikuti sunnah-sunnah beliau dan senantiasa membasahi bibir ini dengan mendo’akan beliau dengan cara memperbanyak bersholawat kepada beliau SAW.
Continue reading “Keagungan Akhlak Rasulullah SAW”

Sabar Menikmati Proses

Pernahkah kita mengeluh ketika do’a kita serasa tidak di dengar oleh Allah SWT? Begitu banyak dari kita yang akhirnya merasa bosan dan kecewa karena hampir setiap hari memanjatkan permohonan yang sama atas banyak keinginan, namun seolah apa yang diharapkan dalam do’a tak jua kunjung nyata.

Janganlah pernah berpikiran dan berprasangka seperti itu terhadap Allah SWT. Kita memiliki kehendak, orang lain juga memiliki kehendak, namun Allah SWT lebih berkehendak terhadap diri kita, hamba-hamba-Nya. Berbaik sangkalah bahwa setiap keputusan Allah SWT terhadap hamba-Nya sesungguhnya demi kebaikan hamba itu sendiri. Jangan pernah berprasangka bahwa penangguhan atas do’a yang kita panjatkan dikarenakan Allah SWT tidak sayang kepada kita. 

Terlupakah kita bahwa hingga hari ini Allah SWT tak juga menghentikan asupan oksigen bagi kita untuk bernafas, kecuali memang sudah saatnya bagi kita untuk tidak bernafas kembali. Mata kita masih jelas digunakan untuk memandang. Kaki kita masih ringan untuk dilangkahkan. Tangan kita beserta jari-jemarinya masih saja lincah menekan tiap tombol keyboard dikomputer kita. Jika beberapa kenikmatan itu saja merupakan anugerah yang begitu besar dan bernilai, pantaskah kita berkeluh kesah untuk beberapa do’a yang pengabulannya “masih” Allah SWT tangguhkan?

Kita begitu bernafsu dan berkeinginan segala sesuatu yang menjadi harapan harus segera terwujud, namun tidak menyadari bahwa sebuah penangguhan dari Allah SWT boleh jadi terdapat hikmah yang besar didalamnya. Bersabarlah dalam menunggu setiap keputusan dari Allah SWT. Bersabar dan tersenyumlah dalam menikmati setiap proses kehidupan. Sadarilah bahwa nasi yang kita makan sehari-hari hingga akhirnya tersaji matang dihadapan kita bukanlah hadir secara cepat kilat dan tiba-tiba.

Cobalah kita runut sebentar ke belakang. Begitu banyak tangan-tangan yang berperan atas hadirnya nasi matang tersebut. Begitu banyak tahap-tahap yang harus dilalui sehingga benih padi yang ditanam dapat menjadi nasi matang yang hangat lagi gurih. Tak perlu untuk menyebutkan satu persatu setiap tahap itu. Cobalah untuk menyadari dan bersabar, bahwa banyak hal di dunia ini yang harus melalui proses dan tidak instan. Boleh jadi kita menyenangi sesuatu, namun hal itu sesungguhnya berakibat buruk bagi kita, dan boleh jadi kita membenci sesuatu, namun hal itu sesungguhnya amat baik untuk diri kita. Sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui dari pada diri kita.
Wallahu a’lam.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Bertimbang Sebelum Berbuat

Tak satupun hal dalam sisi kehidupan ini yang terlewatkan oleh islam. Dalam segala aspek kehidupan ada adab. Baik dari hal-hal yang serius hingga hal-hal kecil dan sepele dalam pandangan manusia sekalipun. Terkadang perhatian kita hanya tertuju kepada perkara yang jelas-jelas kelihatan dan besar dari pada perkara yang kecil. Dalam tindakan, tidak ada istilah kecil atau besar. Setiap perbuatan akan memberikan dampaknya dan akan kembali kepada pelakunya.

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata bahwa janganlah sekali-kali menganggap ada sesuatu lebih penting dari jiwamu sendiri. Karena sesungguhnya, tak ada istilah sedikit dalam perbuatan dosa. Begitu pekanya orang-orang sholeh terdahulu dalam banyak tindakan mereka. Jika disaat itu, seseorang begitu takutnya berbuat salah dan berlebihan dalam perkara yang diperbolehkan, bisa kita lihat sendiri sekarang bahwa seseorang yang terang-terangan berbuat maksiat malah dengan ringannya tertawa atas tindakannya (Na’udzubillahi min zalik).

Dalam pergaulan, suatu waktu mungkin tanpa sengaja kita pernah menyakiti hati orang lain, baik dalam sikap maupun perkataan. Waktu berlalu. Kita menganggap apa yang telah kita lakukan merupakan perkara remeh dan wajar dan berharap dengan berlalunya waktu, goresan yang pernah kita torehkan di hati orang yang pernah kita lukai akan hilang. Sadarkah kita bahwa sebuah perkataan ibarat sebatang paku yang sedang kita genggam. Ketika kita berucap hal yang kasar dan melukai hati seseorang, walau kemudian kita bermohon maaf kepadanya, sesungguhnya kita bagaikan tengah menancapkan sebatang paku tersebut pada permukaan sebuah papan yang kemudian kita cabut.

Lihatlah apa yang tertinggal. Paku tadi sudah pasti akan meninggalkan bekas pada permukaannya. Bekas paku itu akan meninggalkan lubang-lubang kecil pada permukaan papan. Permukaan papan tak akan kembali halus seperti semula. Manusia selalu diberi kesempatan kesempatan dalam bersikap, memilih dalam bertindak ketika berhadapan dengan banyak perkara. Memilih untuk bersikap terburu-buru dan emosional yang kemudian menimbulkan penyesalan atau memilih dengan kehati-hatian dalam pertimbangan yang akan menghasilkan sebuah keputusan yang bijaksana.

Hasan Al Bashri pernah berkata bahwa Allah merahmati seorang hamba yang berhenti saat terlintas keinginannya. Jika itu dilakukan untuk Allah, ia lanjutkan, jika tidak ia tunda.
Benarlah kiranya sebuah riwayat yang menyatakan bahwa berfikir satu jam untuk mempertimbangkan tindakan adalah lebih berharga dari pada beribadah selama 70 tahun. Karena tidak lain dengan begitu seseorang akan menjadi bertimbang dalam setiap langkah dan keputusan yang akan dibuat, baik menyangkut dirinya maupun menyangkut urusan orang banyak.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Bertahan Dalam Iman

Jangan pernah tinggalkan rasa itu. Rasa dimana kita seolah berada dekat dengan kenikmatan syurga dan panasnya api neraka. Rasa dimana sesungguhnya Allah SWT senantiasa mengawasi gerak gerik kita dalam keseharian. Jika manusia tidak tahu apa yang kita perbuat, sudah pasti Allah SWT Maha Tahu dan menyaksikan.

Seorang mukmin sudah pasti mengenakan pakaian itu dimana saja berada. Bukan hanya ketika berada di masjid ataupun di majelis-majelis ilmu, dimanapun berada, ia akan mengenakannya. Rasa itu adalah pakaian abadi yang mesti dikenakan bagi siapapun. Jika pakaian lahir seringkali kita ganti jika kotor, maka pakaian rasa itu tidak akan pernah kotor dan mengotori kita, sebaliknya justru akan membersihkan batin kita.

Seseorang sudah seharusnya mempunyai rasa malu yang tinggi melebihi seorang gadis pingitan seperti halnya Rasulullah SAW. Rasa malu terhadap Allah SWT ketika akan berbuat kemaksiatan merupakan sebuah kesadaran yang tinggi dan akan mendatangkan rahmat dan pertolongan Allah SWT. Bagi seorang muslimah, sungguh sebuah kemuliaan tiada tara jika senantiasa berusaha untuk tetap bertahan dengan pakaian taqwa dan tidak menukarnya dengan dunia, tidak menukarnya hanya untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan ia menanggalkan ciri kemuslimahannya.

Alangkah prihatinnya ketika kita melihat bahwa tidak sedikit seorang muslim yang menjual aqidahnya demi sesuap nasi, sekardus mie instan, demi sebuah pekerjaan dan sebuah kemewahan yang sementara. Tidak sedikit pula yang berpindah keyakinan karena terlalu mencintai seseorang agar dapat terus hidup bersama. Saksikanlah bukti sejarah bagaimana sahabat Rasulullah SAW, Bilal R.a. yang mempertahankan keyakinannya meski tengah dihimpit sebongka batu besar sebagai bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang zhalim saat itu yang menginginkan dirinya agar berpindah keyakinan. Ia masih saja menyebut “ahad, ahad, ahad” sebagai bentuk peng-esa-annya terhadap Allah SWT.

Dialah Allah yang satu, tempat bergantung seluruh makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada satupun yang menyerupai-Nya.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.