Rasa Cinta, Takut dan Harap dalam Beribadah

Setiap muslim mempunyai kewajiban harian yang harus dilaksanakan setiap harinya. Sholat adalah salah satunya. Sholat merupakan rukun islam yang kedua setelah syahadat, disamping puasa, zakat dan haji. Walau merupakan sebuah kewajiban, namun sebagian besar dari kita yang mengaku muslim masih menganggap enteng hal ini. Bagaimana tidak. Ketika adzan terdengar berkumandang, namun sebagian kita yang muslim masih juga disibukkan oleh urusan dunianya. Sedikit rasa kerinduan untuk menyambut panggilan-Nya, padahal kita hidup diatas bumi-Nya. Adakah kita menyadarinya?

Memang, dengan keadaan dunia saat ini, dengan hiruk pikuknya dan segala godaannya, terkadang membuat kita lupa diri, untuk siapakah sebenarnya hidup ini? Kesibukkan kita, keringat yang mengalir setiap harinya, benarkah itu semata-mata untuk Alloh SWT? Seperti pernyataan kita ditiap do’a iftitah, ” Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Robb semesta alam…”. Meski sebagian dari kita bersedia menyambut panggilan sholat, namun hal itu hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban. Ya Alloh, sesungguhnya kami berlindung dari hal demikian.

Apakah kita telah yakin bahwa sholat ataupun ibadah lain yang kita lakukan telah diterima-Nya? Jika semua ibadah itu hanya sekedar melaksanakan kewajiban tanpa dibarengi unsur cinta, takut dan harapan terhadap-Nya?

Ibnul Qoyyim pernah berkata, bahwa ketiga unsur diatas setidaknya harus dimiliki oleh seseorang. Diibaratkan seperti seekor burung, rasa cinta digambarkan sebagai kepalanya, sedangkan rasa takut dan harap adalah kedua sayapnya. Apakah yang akan terjadi jika sekiranya hanya kepalanya saja yang sehat sedangkan salah satu ataupun kedua sayapnya sakit dan tidak berfungsi dengan baik? Bisakah sang burung terbang dengan baik dan sampai ke tujuan?

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Jangan Ingat Kebaikan Diri

Ladang amal senantiasa tersedia dimanapun. Jika kebeningan hati melingkupi, pasti setiap sisi kehidupan memiliki celah untuk dapat menebarkan benih kebaikan. Seorang mukmin akan senantiasa melihat peluang itu dalam keadaan apapun. Sebaliknya, bagi seorang yang pamrih hanya melihat pada sebagian sisi saja, dan itupun dalam perhitungan untung rugi bagi diri pribadi.

Seorang yang memiliki keimanan yang tulus dalam rangka memurnikan ketaatan kepada Alloh SWT, tidak pernah mengharap pengembalian dari amal perbuatannya karena ia yakin bahwa balasan dari Alloh SWT adalah sebuah kepastian. Ia hanya berharap keridhoan Alloh SWT senantiasa mengiringi setiap perbuatan yang ia persembahkan dalam kehidupan. Ia tak akan berbangga dan berpuas diri dengan hanya sekali berbuat kebaikan karena ia menganggap belum berbuat apa-apa sama sekali.

Ketika ungkapan terima kasih dan do’a terucap dari bibir orang yang telah di bantunya, hal itu baginya merupakan hiburan dari Alloh SWT atas kebaikan yang telah dilakukannya sebelum ia benar-benar menerima balasan yang sesungguhnya di akhirat nanti disamping sebagai penguji keikhlasan diri dan kelurusan niatnya dalam berbuat serta sebagai cermin untuk bermuhasabah atas apa yang telah dikerjakan.

Jika setiap diri mau serius berbuat kebaikan, meluruskan niat dalam melakukannya, tidak pernah mengungkit-ungkit kebaikan yang telah diperbuatnya, tidak mengharap pengembalian setelahnya, dan tidak pernah merasa cukup sekali dalam berbuat kebaikan, serta lebih yakin akan balasan dari Alloh SWT di akhirat nanti, tentu akan banyak sekali manusia yang berlomba-lomba berbuat kebaikan (Fastabiqul Khoirot).

Oleh karena itu, jangan ingat kebaikan yang pernah kita lakukan untuk orang lain, tapi ingatlah kebaikan orang lain terhadap diri kita. Berterima kasihlah atas kebaikan mereka terhadap kita, sebagai wujud syukur kita terhadap Alloh SWT.

Dengan begitu sesungguhnya kita tengah melatih hati dan diri untuk senantiasa berada dalam wadah kasih sayang sehingga menjauhkan segala sifat tercela, seperti rasa benci, hasud dan dengki, yang insya Alloh lambat laun akan beranjak menjauh dari hati. Mari berikan yang terbaik bagi kehidupan sebatas kemampuan yang dimiliki dan jangan pernah berharap untuk mendapat pengembalian. Berharaplah hanya pada Alloh SWT, sebaik-baik zat dalam pemberian dan sempurna dalam kasih dan sayang.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.