Jangan Biarkan Tercecer

Kita adalah manusia, bukan malaikat. Kita pasti mempunyai potensi untuk taat dan kadang terjatuh dalam kesalahan. Dari kesalahan kita belajar untuk tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama. Tidaklah mungkin seseorang yang sehat fitrahnya lebih memilih keburukan dari pada kebaikan. Sesungguhnya keburukan itu pahit dan kemanisan itu ada pada kebaikan.

Tidaklah lembar-lembar nasehat yang terkumpul dalam banyak kitab, petuah-petuah para alim ulama hanya sebagai kalimat-kalimat yang indah di dengar bagaikan syair yang di bacakan. Kalimat-kalimat itu seharusnya diambil. Ketika melihatnya tercecer, maka pungutlah, bukan hanya melihatnya seperti sampah yang mengganggu pemandangan lalu disingkirkan. Ia bukan hanya untuk di baca, namun diamalkan sesuai kemampuan diri.

Begitu besarnya perjuangan para ulama-ulama pewaris para Nabi, hingga mereka tak membiarkan apa yang diwariskan oleh Nabi tercecer dan tak dihargai seperti sampah. Mereka bukukan kitab-kitab keilmuan, yang berisi nasehat dan petunjuk dalam kehidupan. Mereka persembahkan karya-karya terbaik yang abadi sepanjang zaman bukan untuk mencari popularitas, tapi semata-mata untuk membantu tegaknya agama Allah SWT, agar orang-orang banyak terbantu, tidak bingung ataupun tersesat dalam menjalani kehidupan.

Hargailah para ulama dengan keilmuwannya, karena jasanya merawat ajaran islam agar hidup dalam hati dan teraplikasi dalam kehidupan umat-umat sesudah mereka. Takutlah atas diangkatnya ilmu, yakni ketika akhirnya Allah SWT memanggil satu persatu para alim ulama soleh yang menjadi rujukan umat dengan kematian sehingga melebarlah kejahilan serta kebodohan dalam urusan agamanya.

Wallohu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.