Bertimbang Sebelum Berbuat

Tak satupun hal dalam sisi kehidupan ini yang terlewatkan oleh islam. Dalam segala aspek kehidupan ada adab. Baik dari hal-hal yang serius hingga hal-hal kecil dan sepele dalam pandangan manusia sekalipun. Terkadang perhatian kita hanya tertuju kepada perkara yang jelas-jelas kelihatan dan besar dari pada perkara yang kecil. Dalam tindakan, tidak ada istilah kecil atau besar. Setiap perbuatan akan memberikan dampaknya dan akan kembali kepada pelakunya.

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata bahwa janganlah sekali-kali menganggap ada sesuatu lebih penting dari jiwamu sendiri. Karena sesungguhnya, tak ada istilah sedikit dalam perbuatan dosa. Begitu pekanya orang-orang sholeh terdahulu dalam banyak tindakan mereka. Jika disaat itu, seseorang begitu takutnya berbuat salah dan berlebihan dalam perkara yang diperbolehkan, bisa kita lihat sendiri sekarang bahwa seseorang yang terang-terangan berbuat maksiat malah dengan ringannya tertawa atas tindakannya (Na’udzubillahi min zalik).

Dalam pergaulan, suatu waktu mungkin tanpa sengaja kita pernah menyakiti hati orang lain, baik dalam sikap maupun perkataan. Waktu berlalu. Kita menganggap apa yang telah kita lakukan merupakan perkara remeh dan wajar dan berharap dengan berlalunya waktu, goresan yang pernah kita torehkan di hati orang yang pernah kita lukai akan hilang. Sadarkah kita bahwa sebuah perkataan ibarat sebatang paku yang sedang kita genggam. Ketika kita berucap hal yang kasar dan melukai hati seseorang, walau kemudian kita bermohon maaf kepadanya, sesungguhnya kita bagaikan tengah menancapkan sebatang paku tersebut pada permukaan sebuah papan yang kemudian kita cabut.

Lihatlah apa yang tertinggal. Paku tadi sudah pasti akan meninggalkan bekas pada permukaannya. Bekas paku itu akan meninggalkan lubang-lubang kecil pada permukaan papan. Permukaan papan tak akan kembali halus seperti semula. Manusia selalu diberi kesempatan kesempatan dalam bersikap, memilih dalam bertindak ketika berhadapan dengan banyak perkara. Memilih untuk bersikap terburu-buru dan emosional yang kemudian menimbulkan penyesalan atau memilih dengan kehati-hatian dalam pertimbangan yang akan menghasilkan sebuah keputusan yang bijaksana.

Hasan Al Bashri pernah berkata bahwa Allah merahmati seorang hamba yang berhenti saat terlintas keinginannya. Jika itu dilakukan untuk Allah, ia lanjutkan, jika tidak ia tunda.
Benarlah kiranya sebuah riwayat yang menyatakan bahwa berfikir satu jam untuk mempertimbangkan tindakan adalah lebih berharga dari pada beribadah selama 70 tahun. Karena tidak lain dengan begitu seseorang akan menjadi bertimbang dalam setiap langkah dan keputusan yang akan dibuat, baik menyangkut dirinya maupun menyangkut urusan orang banyak.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.

Bertahan Dalam Iman

Jangan pernah tinggalkan rasa itu. Rasa dimana kita seolah berada dekat dengan kenikmatan syurga dan panasnya api neraka. Rasa dimana sesungguhnya Allah SWT senantiasa mengawasi gerak gerik kita dalam keseharian. Jika manusia tidak tahu apa yang kita perbuat, sudah pasti Allah SWT Maha Tahu dan menyaksikan.

Seorang mukmin sudah pasti mengenakan pakaian itu dimana saja berada. Bukan hanya ketika berada di masjid ataupun di majelis-majelis ilmu, dimanapun berada, ia akan mengenakannya. Rasa itu adalah pakaian abadi yang mesti dikenakan bagi siapapun. Jika pakaian lahir seringkali kita ganti jika kotor, maka pakaian rasa itu tidak akan pernah kotor dan mengotori kita, sebaliknya justru akan membersihkan batin kita.

Seseorang sudah seharusnya mempunyai rasa malu yang tinggi melebihi seorang gadis pingitan seperti halnya Rasulullah SAW. Rasa malu terhadap Allah SWT ketika akan berbuat kemaksiatan merupakan sebuah kesadaran yang tinggi dan akan mendatangkan rahmat dan pertolongan Allah SWT. Bagi seorang muslimah, sungguh sebuah kemuliaan tiada tara jika senantiasa berusaha untuk tetap bertahan dengan pakaian taqwa dan tidak menukarnya dengan dunia, tidak menukarnya hanya untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan ia menanggalkan ciri kemuslimahannya.

Alangkah prihatinnya ketika kita melihat bahwa tidak sedikit seorang muslim yang menjual aqidahnya demi sesuap nasi, sekardus mie instan, demi sebuah pekerjaan dan sebuah kemewahan yang sementara. Tidak sedikit pula yang berpindah keyakinan karena terlalu mencintai seseorang agar dapat terus hidup bersama. Saksikanlah bukti sejarah bagaimana sahabat Rasulullah SAW, Bilal R.a. yang mempertahankan keyakinannya meski tengah dihimpit sebongka batu besar sebagai bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang zhalim saat itu yang menginginkan dirinya agar berpindah keyakinan. Ia masih saja menyebut “ahad, ahad, ahad” sebagai bentuk peng-esa-annya terhadap Allah SWT.

Dialah Allah yang satu, tempat bergantung seluruh makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada satupun yang menyerupai-Nya.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.