Bertahan Dalam Iman

Jangan pernah tinggalkan rasa itu. Rasa dimana kita seolah berada dekat dengan kenikmatan syurga dan panasnya api neraka. Rasa dimana sesungguhnya Allah SWT senantiasa mengawasi gerak gerik kita dalam keseharian. Jika manusia tidak tahu apa yang kita perbuat, sudah pasti Allah SWT Maha Tahu dan menyaksikan.

Seorang mukmin sudah pasti mengenakan pakaian itu dimana saja berada. Bukan hanya ketika berada di masjid ataupun di majelis-majelis ilmu, dimanapun berada, ia akan mengenakannya. Rasa itu adalah pakaian abadi yang mesti dikenakan bagi siapapun. Jika pakaian lahir seringkali kita ganti jika kotor, maka pakaian rasa itu tidak akan pernah kotor dan mengotori kita, sebaliknya justru akan membersihkan batin kita.

Seseorang sudah seharusnya mempunyai rasa malu yang tinggi melebihi seorang gadis pingitan seperti halnya Rasulullah SAW. Rasa malu terhadap Allah SWT ketika akan berbuat kemaksiatan merupakan sebuah kesadaran yang tinggi dan akan mendatangkan rahmat dan pertolongan Allah SWT. Bagi seorang muslimah, sungguh sebuah kemuliaan tiada tara jika senantiasa berusaha untuk tetap bertahan dengan pakaian taqwa dan tidak menukarnya dengan dunia, tidak menukarnya hanya untuk sebuah pekerjaan yang mengharuskan ia menanggalkan ciri kemuslimahannya.

Alangkah prihatinnya ketika kita melihat bahwa tidak sedikit seorang muslim yang menjual aqidahnya demi sesuap nasi, sekardus mie instan, demi sebuah pekerjaan dan sebuah kemewahan yang sementara. Tidak sedikit pula yang berpindah keyakinan karena terlalu mencintai seseorang agar dapat terus hidup bersama. Saksikanlah bukti sejarah bagaimana sahabat Rasulullah SAW, Bilal R.a. yang mempertahankan keyakinannya meski tengah dihimpit sebongka batu besar sebagai bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang zhalim saat itu yang menginginkan dirinya agar berpindah keyakinan. Ia masih saja menyebut “ahad, ahad, ahad” sebagai bentuk peng-esa-annya terhadap Allah SWT.

Dialah Allah yang satu, tempat bergantung seluruh makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada satupun yang menyerupai-Nya.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

4 thoughts on “Bertahan Dalam Iman

  1. Assalamu’alaikum

    Allah…; kala himpitan kehidupan bak himpitan yang menimpa saudara kami Bilal R.A., kuatkan iman kami untuk sentiasa hanya pada-Mu, karena-Mu. Kami sadar, bahwa cobaan demi cobaan ini adalah karena bentuk sayang-Mu pada kami; bahwa emas itu patut dibersihkan dari kotornya, bahwa jasmani itu patut dibersihkan dari debunya, bahwa hati itu laik dibersihkan dari noktahnya. Kami sadar; bahwa kadar cobaan itu telah Kau takarkan untuk kami. Namun kami pun sadar, bahwa frekuensi kami tuk sentiasa bersanding dengan-Mu paling-paling hanya 0,017361111111111111111111111111111. Pinta kami, Allah: Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’a, wa arinal batila batila warzuqnattinaba. Yaa muqallib al qulub, tsabbit qulubana ‘alaa dienika wa thoo’atika. Amin Allahumma Amin.

    Wassalamu’alaikum

  2. Allahu Akbar!!!!luar Biasa. Semoga Kita ditetapkan iman, ihsan dan Islam sampai maut menjemput kita. Amin
    Salam Khilafah Islamiyah Indonesia Bersatu.

    @ zidaburika ;

    Amin Allahumma amin..
    Terima kasih sudah berkunjung 🙂 Salam ukhuwah

  3. smoga aku ttp punya rasa malu> Soalnya kadang aku masih ga tau malu sampe ikutan cosplay. Tapi sukaaa… aduh.. dilema…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s