Penghambaan

Untuk berbuat baik, kita tidak harus menunggu momentum khusus yang tepat dari waktu yang tersedia. Selama kita masih bernafas, akal kita sehat, dan segala potensi diri bekerja dengan baik, itulah saatnya kita berbuat sesuatu yang terbaik bagi semua. Kita bisa menjadikan setiap pembicaraan sebagai dakwah. Kita bisa menjadikan kekuasaan yang kita punya sebagai modal untuk terus mengajak orang banyak menuju ke jalan ketaatan pada sang kholiq.

Jika bukan untuk hal demikian, untuk apakah setiap anggota tubuh ini diciptakan? Apakah hanya sebagai sarana pemenuhan syahwat? Tentu tidak bukan? Karena, sesungguhnya penciptaan diri kita bukanlah sekedar main-main. Setelah kita terlahir ke dunia, sesungguhnya kita sedang mengemban amanah yang berat dari Allah yang maha kuasa.

Kita telah terikat untuk senantiasa berjalan diatas aturan-aturan-Nya. Kita juga diberi batasan dalam tindakan keseharian, agar tidak sampai melanggar larangan-larangan-Nya. Penyerahan total sebagai seorang muslim merupakan sebuah kenyataan yang harus kita jalani untuk mencari ridho Allah SWT.

Seorang ahli ilmu berkata, bahwa akal yang telah Allah SWT berikan kepada manusia bukanlah digunakan untuk mengakal-akali hal apa yang telah Allah SWT tetapkan di dalam Al Qur’an. Malah sebaliknya, akal-lah yang seharusnya tunduk dan sejalan dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan didalam kitab-Nya, yakni Al Qur’an.

Sadarilah bahwa kita adalah hamba, bukan Tuhan. Kehendak dan kekuasaan mutlak atas diri kita adalah milik Allah SWT. Dia-lah dzat yang harus diakui eksistensinya, keabadiannya, karena selain-Nya adalah fana, segera punah dan lekang oleh berjalannya waktu.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.