Rendah Hati

Hari ini, tidak sedikit dari kita yang cenderung ingin diperlakukan istimewa dihadapan orang banyak. Dipuji, disanjung dan dibanggakan dihadapan orang banyak menjadi sebuah kenyamanan dan akrab dalam keseharian. Ketika tiba saatnya diri dikritik, diberi saran membangun, diperlihatkan kesalahan dan kekurangan diri, hati kita terluka dan muncul perasaan tidak terima dalam hati. Semua hal yang kita lakukan selalu kita anggap benar tanpa kekhawatiran telah terjadi kesalahan dan kekurangan.

Ketika sudah memegang suatu jabatan yang tinggi dalam suatu pemerintahan misalnya, terkadang kita enggan untuk melakukan hal-hal diluar kebiasaan yang dilakukan sebagai seorang yang memegang kedudukan tinggi. Sekedar ikut empati dan merasakan suasana pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang golongan bawah saja terkadang terkesan canggung. Lain cerita jika sebagian dari kita yang mengistimewakan seseorang tanpa ia mau dan inginkan dikarenakan ketokohan, keilmuwan serta dedikasi mulianya dalam kehidupan agama, berbangsa dan bernegara.

Semakin jauhnya rasa memiliki dan kebersamaan meninggalkan kita, sejauh berlalunya masa-masa keemasan dan kemuliaan akhlak serta sikap tawadhu’ sepeninggalan Baginda Rasulullah SAW dan para sahabat dahulu. Yang tinggal saat ini hanya bukti kebenaran sejarah manis yang kehilangan wujud pelaku dalam kehidupan sehari-hari.

Diriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan, Rasulullah SAW telah bersepakat dengan para sahabat untuk memotong seekor domba dalam rangka jamuan makan bersama. Dalam pelaksanaannya, masing-masing orang dari para sahabat saling berlomba menawarkan tenaganya untuk dilibatkan dalam prosesi jamuan tersebut. Diantara mereka ada yang menawarkan diri sebagai tukang sembelih, juga ada yang menawarkan diri sebagai orang yang menguliti, hingga ada yang menawarkan diri sebagai orang yang memasaknya.

Begitulah hal yang terlihat dalam rangka untuk menghidangkan masakan dalam jamuan makan bersama itu.
Meskipun Rasulullah SAW seorang Nabi, beliau tidak tinggal diam dalam prosesi jamuan tersebut. Beliaupun ikut andil dan turun tangan sebagai orang yang bertugas mengumpulkan kayu bakar. Sahabat yang melihat keadaan ini menjadi merasa segan dengan mengatakan kepada Rasulullah SAW, bahwa jumlah mereka telah cukup untuk mengerjakan semua tugas-tugas di atas.

Namun, apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dihadapan para sahabat? Beliau mengatakan, “Aku tahu hal itu, namun aku tidak senang mengistimewakan diriku atas kalian. Sesungguhnya, Allah SWT membenci hamba yang mengistimewakan diri terhadap saudara-saudaranya.” Setelah berkata demikian, baginda Rasulullah pun akhirnya mengumpulkan kayu bakar dan membawanya dengan tangannya sendiri.

Saudaraku,

Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita sifat tawadhu’ dan rendah hati, senantiasa suka untuk selalu berbenah diri dan bermuhasabah dalam setiap perbuatan yang sudah, sedang dan yang akan kita lakukan, sehingga kita senantiasa beroleh rahmat dan ridho-Nya..amin.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

2 thoughts on “Rendah Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s