Berlomba-lomba Dalam Kebaikan dan Perbaikan

hamba.jpg 

Anugerah kehidupan yang kita dapatkan bukanlah merupakan sebuah perkara yang kecil. Dapat kembali terjaga dipagi hari yang cerah adalah sebuah hadiah kesempatan bagi kita untuk kembali memperbaharui keimanan dan ikrar untuk senantiasa melangkah dalam taat kepada Allah SWT, bersama rasa syukur dalam wujud amal perbuatan baik. Waktu-waktu yang terbentang menjadi sarana yang menghantarkan diri kita dalam menggapai rahmat dan keridhoan-Nya.

Sebanyak waktu yang ada, tidak semuanya kita dapatkan dalam kesibukan. Dalam keadaan tertentu, selalu akan kita jumpai adanya waktu luang. Beruntung sekiranya kita mampu memanfaatkannya dalam hal-hal yang bermanfaat bagi pribadi dan orang banyak. Namun tidak dapat dipungkiri, terkadang kita kehilangan inisiatif ketika dihadapkan dengan banyak waktu luang. Kita senantiasa terjebak oleh rutinitas.

Saat waktu luang menghampiri, kita hanya dapat memilih melamun atau melakukan banyak hal tak berguna dan lupa atau bahkan tidak tertarik untuk memantik api kreatifitas. Jadilah kebanyakan dari kita merupakan sosok manusia text book, yang hanya bergerak, bekerja serta menggeliat jika ada perintah tertulis saja. Diluar konteks itu, kita kehilangan daya kreasi, inisiatif, dan yang utama adalah kehilangan semangat untuk saling berlomba berbuat dan mengejar kebaikan serta perbaikan.

Kepuasan diri dan merasa cukup terhadap apa yang sudah kita miliki, terutama dalam hal masalah kepahaman ber-islam telah mengepung kita sehingga tidak mampu mendorong kita untuk terus menambah dan menambah perbendaharaan kemampuan diri. Tidak inginkah diri kita menjadi bagian dari orang-orang yang dapat memberikan manfaat bagi orang banyak? Menjadi pribadi dengan orientasi hidup yang luas dan lentur? Hidup dengan orientasi memberikan manfaat dan bukan semata-mata hanya mengambil manfaat seperti benalu.

Menjadi pribadi yang dapat diandalkan saat kondisi dan situasi apapun dikarenakan memiliki banyak kemampuan. Melangkah dengan pandangan jauh ke depan diiringi semangat membara untuk sebuah tujuan dan cita-cita mulia menggapai syurga-Nya nan indah. Adalah sebuah anjuran untuk selalu memandang keatas dalam perkara akhirat, sehingga kita senantiasa terdorong untuk selau melakukan perbaikan ilmu dan amal untuk bekal kehidupan setelah mati, dan mampu memandang kebawah dalam hal dan perkara dunia, sehingga kita mampu bersyukur terhadap segala nikmat yang kita terima.

Evaluasi diri sudah seharusnya kita lakukan untuk hal-hal yang sebetulnya butuh perbaikan dan peningkatan. Sudah saatnya bagi kita untuk tidak lagi memanjakan lahiriah kita, dengan memberikan kepuasan tanpa batas terhadap hawa nafsu, membiarkan indera mata dengan tontonan yang tidak mendidik, telinga dan mulut dari mendengarkan dan berkata sia-sia dan segala hal yang lebih banyak melalaikan kita dalam usaha memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

12 thoughts on “Berlomba-lomba Dalam Kebaikan dan Perbaikan

  1. Di akhir zaman ini, kebanyakan orang menghabiskan waktunya(sangat disayangkan) hanya untuk berlomba untuk mengejar ketenaran & materi/harta (mis: mengikuti audisi2/lomba nyanyi)…, ada yg berlomba mengejar jabatan (bersedia menempuh segala cara untuk mendapatkan jabatan tsb), berlomba mengejar wanita idolanya (dgn menghabiskan seluruh energinya), pdhal semua itu diakhirat nanti tdk ada apa2nya, mengapa tdk berlomba dalam kebaikan yang sdh pasti sangat bermanfaat baginya dihari esok (akhirat)

  2. @ Haitan Rachman

    Wa’alaikumussalam wr wb,

    Betul kita perlu berlomba-lomba dalam kebaikan, tetapi bukan berarti kita seperti berlari atletik dalam perlombaan. Karena ketika kita jatuh dalam kesalahan, maka sebenarnya orang lain yang mengetahuinya perlu juga mengingatkan kita, karena mengingatkan juga merupakan bagian dari berlombaan dalam kebaikan.

    Setuju Pak.. Terima kasih atas sharing nasihatnya. Alhamdulillah & terima kasih, dengan senang hati silakan jika ingin menampilkan artikel ini di blog bapak 🙂

  3. Assalamu ‘alaikum wr. ab.

    Terimakasih Tuan sudi datang ke situs kami, http://usahadawah.wordpress.com. Kita kaum muslimin, termasuk saya sendiri, kurang mempunyai FOKUS yang jelas untuk mencapai TUJUAN atau HARAPAN yang diinginkan itu. Sehingga kita tidak mempunyai langkah-langkah yang jelas untuk hal ini, alhasil di akhirnya maka harapan itu kadangkala kurang dapat dicapai dengan baik.

    Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, pernah mengajar Abu Bakar Asy-Syidiq RA tentang penting memperhatikan sebuah do’a untuk lebih memperhatikan diri sendiri, bahwa diri ini banyak kesalahan dan jika Allah swt tidak mengampuninya maka diri ini akan menjadi rugi di dunia dan akherat.

    Betul kita perlu berlomba-lomba dalam kebaikan, tetapi bukan berarti kita seperti berlari atletik dalam perlombaan. Karena ketika kita jatuh dalam kesalahan, maka sebenarnya orang lain yang mengetahuinya perlu juga mengingatkan kita, karena mengingatkan juga merupakan bagian dari berlombaan dalam kebaikan.

    Tulisan diatas akan kami kopikan ke dalam situs kami.

  4. @ Ikhsan

    Wa’alaikumussalam wr wb Saudaraku,

    Amin Allahumma amin.
    Tak lupa pula saya sekeluarga mengucapkan;
    Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.
    Semoga bersih hati menjadi milik tiap diri di hari nan fitri.
    Terima kasih saudaraku. Semoga kasih sayang Allah senantiasa menaungi kita semua..amin

    Wassalam
    Fakhrurrozy & komariah sekeluarga

  5. Assalamu’alaikum.wr.wb.

    Sebelas Bulan yang telah kita lewati pastilah tak luput dari salah dan Khilaf,walau kita tak pernah bersua,hati ini tetap terasa dekat,seiring kumandang takbir,tahlil dan tahmid ijinkan kami berucap dihari nan fitri ini

    Taqqabbalallahu Minna Waminkum,Kullu Aamin Wa Antum Bi Khoir Shiyaamana Wa Shiyaamakum,Minal Aidzin Walfaidzin,Mohon Maaf Lahir dan Batin,Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah. “IkhsanNissa Dan Keluarga”

    Semoga Alloh pertemukan kita kemabli dengan Ramadhan yang akan datang,amiin. 🙂

    Wassallamu’alaikum.wr.wb.

  6. Sekali lagi tentang pengetahuan agama……….!!
    Kita diharuskan menjadi orang pintar (banyak pengetahuan) karena bodoh lebih mengarah pada kesesatan (“al-jahil asbab al-dhalal”). Biasanya kalau orang pintar selalau merasa dirinya bodoh. Orang pintar akan ketahuan dirinya pintar oleh orang pintar pula. Tak mungkin oleh orang bodoh. Karena itu, kita tidak akan tahu apa kita pintar atau bodoh. Sekali-kali menganggap orang lain bodoh, maka kita-lah yang bodoh.
    Dalam filosofi Padi, semakin kuning padi, maka semakin merunduk. Artinya, semakin matang pengetahuan seseorang, semakin ia merasa dirinya hina, bodoh dan lemah, la hauwa wala quwwata illa billah.
    Ketika orinetalis asal Belanda Snouck Hurgronje penasaran ingin mengunjungi ilmuwan muslim dari Indonesia di Mekkah ebrnama Syekh Nawawi al-Bantani, beliau mengatakan bahwa, Syeikh Nawawi itu orangnya ramah dan sopan. Jika berjalan tidak pernah terlihat menengadah ke atas, Ia selalu merunduk ke bawah melihat bumi ibarat melihat lautan kitab ilmu. Begitu juga para ulama dari Indonesia mengatakan tentang beliau bahwa di dunia ini tidak ada kaitan apa-apa di antara manusia, selain antara murid dan guru. Karena itu, jika melihat usia Syeikh Nawawi al-Bantani tidak sebanyak karyanya.
    Pertanyaanya, mengapa kini banyak anak-anak kiyai, anak muda atau umat Islam yang kurang mengenal/mengerti al-Qur’an dan Hadits? Hal itu menambah keKhawatiran bahwa al-Qur’an dan Hadits semakin banyak ditinggalkan anak muda Islam.
    Ada dua kategori yang mau saya katakan, bahwa ada anak muda Islam yang tau ilmu agama (ahl ilmi) tapi tidak “ahli ibadah”, dan ada anak muda yang “ahli ibadah, tapi tidak “ahl ilmu”.
    Sebagian anak muda umat Islam banyak yang rajin melaksanakan shalat, puasa, bersedekah, dan menjalankan amal-amalan shalih, tapi tidak tau bagaimana do’a-doa shalat, bagaimana cara bersedekah dan bagaimana perhitungan zakat, mawarits dll, tidak tau bagaimana kaitan puasa dan sosial atau bahkan filosofinnya tentang amalan-amalan dalam Islam sampai dengan memanfaatkan teknologi. Tapi, sebaliknya, banyak anak muda Islam yang terpelajar dan berpengathuan ke-Islamaannya sangat tinggi, tapi dalam segi ibadahnya sangat mencala-mencle. Anak muda Islam yang terakhir disebut ini, sering kali menjadi orang yang selalu memperjuangkan perkembangan ilmu pengetahuan Islam.
    Ada cerita anekdot bahwa konon, Yusuf Qardhwi, Fazlur Rahman, Zialul Haq, al-Maududi, Naquib al-Atas ketika sedang mempelajari metafisika Islam sering melakukannya sambil minum-minuman supaya otak merasa fresh. Memeng anekdot ini konyol, tapi ilmu keislaman tidak lah semudah yang orang bayangkan dengan ilmu-ilmu mengenai pahala dan dosa.
    Lebih baik kita saling berbagi pengetahuan dengan melihat blog saya.
    Intinya, tidak hanya merasa bodoh, tapi merasa diri kekurangan segala-galanya. Hanya Allah Swt yang Maha Kaya, Maha Pintar, Maha Kuasa tempat manusia mengadu. “apalaa ta’qiluun”, “afalaa tadabbaruun”, “afala ta’lamuun”, fa’taqiluna ya ulil al-baab”.

  7. Menurut saya;

    Intinya setiap kita sesungguhnya diposisi sama-sama belajar dan tidak boleh berpuas dan merasa lebih tahu meski tidak bisa dipungkiri akan terlihat sendiri golongan orang2 yg mengerti/paham islam diantara orang2 yg tidak paham. Dan pasti tidak akan sama “cara berjalan”nya orang2 yg tahu dan paham dengan org2 yg tidak tahu dan tidak paham.

  8. “Kepuasan diri dan merasa cukup terhadap apa yang sudah kita miliki, terutama dalam hal masalah kepahaman ber-islam telah mengepung kita sehingga tidak mampu mendorong kita untuk terus menambah dan menambah perbendaharaan kemampuan diri”.
    Setuju….., pernyataan itu cocok dengan kondisi umat Islam masa kini. Tak tau agama, ngakunya sudah paham.
    Gimana kalau saya punya usul begini, kita (umat Islam) jangan merasa pintar dan jangan mau dikatakan/dianggap pintar di lingkungan orang-orang bodoh (tentang agama).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s