Manusia, Makhluk Yang Hanya Menumpang Di Bumi Allah SWT!

Fitrah manusia pasti akan mencintai kebaikan dan sangat membenci keburukan serta perbuatan maksiat. Namun terkadang, seorang manusia tidak mampu untuk mengendalikan hawa nafsu yang lebih banyak menjerumuskan dirinya dalam perbuatan buruk. Sungguh, peran keimanan begitu besar dalam langkah hidup seseorang. Iman yang benar dan baik pasti akan mengarahkannya pada perbuatan baik, dan lemahnya iman akan menjadikannya cenderung terjatuh dalam kemaksiatan. Merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap gerak kehidupan kita, yang lebih banyak lalai dan terkungkung hawa nafsu, merupakan sebuah langkah yang harus diambil, karena dimanapun kita berada, pasti Allah SWT Maha Menyaksikan.

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, “Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu.” Orang itu terperangah, “Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut sekalipun.” Wahai kisanak, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?” Orang itu lalu tertunduk dan berkata, “katakanlah yang kedua, Tuan guru!”.

Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah.” Pendosa itu kembali terperangah, “Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah juga.” Ibrahim bin Adham pun berkata, “Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?” “Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru.”

Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah.” Orang itu tersentak, “Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?” Ibrahim bin Adham menjawab,”Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?” Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, “Katakanlah yang keempat, Tuan guru.”

Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut.” Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?” Ibrahim bin adham menjawab, “Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih juga berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?” Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, “Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima.”

Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu.” Pemuda itupun berkata, “Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, “Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?”

Pemuda itupun langsung pucat, dan dengan suara parau menahan ledakan tangis ia mengiba, “Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya.” Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.

Sungguh, saya, anda dan kita semua tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita.  Siapapun akan mendamba sebuah akhir hidup yang baik serta dalam keadaan beriman dan ketaatan kepada Allah. Semoga kisah diatas menggugah jiwa kita untuk senantiasa menyadari, bahwa hidup yang sebentar ini hanya titipan dan ujian serta pasti suatu saat akan diambil kembali oleh Sang Pencipta kita, Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada kita dalam sisa-sisa langkah hidup yang tengah kita ayun saat ini, agar senantiasa dalam ketaataan dan naungan Rahmat serta keridhoan-Nya semata.

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

7 thoughts on “Manusia, Makhluk Yang Hanya Menumpang Di Bumi Allah SWT!

  1. benar kita hanyalah makhluk Allah yag hanya menumpang sejenak untuk mengumpulkan bekal yg baik dan halal sebanyak-banyaknya demi perjalanan panjang yg akan kita tempuh. tapi dasar manusia yg banyak khilaf, sehingga kita jarang sadar. namanya juga manusia, kata ustadz abdul baits dalam renungannya bahwa ternya manusia itu berasal dari dari dua suku kata bahasa Arab, yaitu MAN yaitu makhluk Allah yg berakal, dan NUSIA yaitu bentuk pasif dari kata NASIA yg berarti diberi sifat lupa. jadi manusia adalah makhluk ALlah yg punya sifat pelupa. namaun kita kenapa sering melupakan diri yaa?

  2. Ya Allah kami hanya manusia yg tdk berdaya..kami bersyukur diberi ksmptn hdp didunia yg indah ini..kami berharap khdpn dunia ini tdk menjerumuskan kami kpd kemaksiatan kpdaMu..kami memohon kslmtn didunia dan akhirat..Amin..

  3. Suatu hari Ibrahim bin Adham berkeliling di kawasan Khurasan dengan menunggangi kuda sewaannya. Lalu, Ibrahim singgah di sebuah tempat untuk melakukan shalat Ashar.
    Dengan membayar sewa kuda sekitar 5000 rupiah, Ibrahim bergegas mencari sebuah Masjid.
    Sesampainya di Masjid yang Ia temukan, ternyata kamar kecil (WC) Masjid itu ditunggu oleh seorang yang sangat benci kepada orang yang masuk WC tanpa mau membayar selepas buang air.
    Saat itu, Ibrahim bin Adham merasa kebelat dan Ia pun memasuki WC masjid .
    Selepas buang air, Ibrahim dimintai uang oleh penuggu WC dan bertanya, “tuan! silahkan Anda bayar ke dalam kotak”, tanya penjaga kepada Ibrahim.
    Ibrahim kaget karena harus membayar uang WC. Sejenak Ibrahim merenung, bahwa kini di dunia sudah tidak ada yang gratis.
    Lalu, Ibrahim bertanya, “apakah tuan sudah shalat?, tanya Ibrahim kepada penjaga WC.
    Selepas shalat dan berdzikir, Ibrahim melihat ke arah pintu dan melihat penjaga hendak melakukan shalat. Ibrahim merasa aneh karena penjaga itu terlambat melakukan shalat.
    Setelah penjaga WC melakukan shalat, Ibrahim menghampirinya dengan muka yang nampak kemerah-merahan, lalu bertanya kepada Penjaga WC, “apakah tuan tau masjid ini tempat Allah dan WC itu tempat setan?”
    Penjaga WC itu menjawab, “tentu saya tau”.
    Ibrahim melanjutkan, “apakah tuan sudah membayar karcis ketika masuk masjid ini?”, tambahnya.
    Penjaga WC pun merasa bingung mendengar pertanyaan Ibrahim, karena sebagai bagian pengurus masjid, ia tahu masjid itu tidak menyediakan keropak amal.
    “Sebagai salah satu pengurus masjid, saya tau masjid ini sering dikunjungi banyak orang dan dengan uang WC taman (shuffah) itu masjid ini memiliki banyak kamar mandi dan tempat wudhu. Kami sengaja tidak menyediakan keropak masjid agar mereka bisa tenang ketika masuk masjid”, kenapa tuan berkata tentang karcis masuk masjid?”, penjaga WC itu balik bertanya.
    Ibrahim bin Adham menjelaskan, “kalau untuk masuk WC yang banyak dikerumuni setan saja harus bayar, apalagi masjid sebagai tempat (rumah) Allah. Tuan tentu ingin masuk sorga-Nya?”.
    Seketika penjaga WC terdiam dan bersimpuh sujud menghadap ke arah kiblat seraya mengangkat tangannya dan memanjatkan ampunan kepada Allah Swt.
    Firman Allah Swt: “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran [3]: 136).
    Jadi, surga, tak satu pun manusia yang tak ingin surga. Namun, surga tidak gratis. Untuk memasukinya harus dengan tiket. Dan tiket masuknya adalah takwa dalam artian yang luas[] Wallahu’alam

  4. @ Mbak Diah

    ‘alaikumussalam wr wb,

    Alhamdulillah. Silakan Mbak jika berkenan. Smoga bermanfaat dan dapat kita ambil pelajaran utk dapat di amalkan dalam kehidupan.

    Wassalam

  5. Assaamualaykum wr.wb

    Sungguh ini juga merupakan nasehat bagi mbak pribadi. Terima kasih ya akhi, bolehkan tulisan ini mbak kirim juga tentu mencantumkan nama dan alamat blog akhi, mbak akan kirim pula ke milis taqlim di kantor mbak yg dulu krn isinya sangat bermanfaat, tapi tentunya jika akhi mengijinkan.

    wassalam,
    mbak diah

  6. Semoga kita tak menunggu lagi utk segera berhijrah, dari perbuatan buruk kepada amal sholeh dan perbikan diri.
    Semoga noda hitam yang membekas dipermukaan hati, dari kemaksiatan yg pernah dilakoni mampu terkikis oleh kesungguhan taubat dan penyerahan diri kepada-Nya…
    Insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s