Memandang Kehidupan

Saudaraku,

Seperti apakah diri kita memandang kehidupan dunia ini? Apakah kita harus menafikan dan meninggalkannya dalam rangka untuk berkonsentrasi dan menyendiri untuk beribadah kepada Allah SWT? Seperti apakah kita semestinya menempatkan posisi diri kita di atas permukaan bumi ini?

Syeikh Abdullah bin Alwi Al Haddad dalam sebuah syairnya menyebutkan, “Ambillah dunia yang sampai padamu, dan dengan itu berjuanglah menuju Tuhanmu. Berjuanglah dengan penuh kesungguhan dan kemudian perhitungkanlah”.

Sebuah sikap yang arif, dimana seseorang, terlebih muslim, mampu menjadikan dunia sebagai sarana aktifitas dan kreatifitas positif bagi dirinya, sehingga dunia mampu manghantarkannya pada kebaikan dan menyelamatkannya dari keburukan. Ia mampu dengan benar memandang bahwa dunia merupakan jembatan serta ladang baginya untuk kehidupan akhirat.

Ada sebuah kisah tentang seorang pria cerdas yang memilih meninggalkan bangku kuliahnya karena menganggap bahwa hal yang ia jalani merupakan sebuah perkara yang tidak perlu serta atas alasan yang tidak jelas. Ia memilih fokus untuk beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan meninggalkan usaha yang semestinya ia lakukan, terlebih dengan keadaan orang tuanya yang butuh perhatian dan perawatan dikarenakan penyakit akut yang dideritanya, serta masih terdapat adik-adiknya yang butuh figur ayah dan pemimpin di keluarganya, dikarenakan sang ayah beberapa tahun yang lalu telah meninggal dunia, dan hal itu diharapkan terdapat pada sosok sang kakak, yakni pria tadi.

Saudaraku,

Barangkali ada sebagian dari kita yang mencoba “lari” dari dunia dan menafikannya, lalu berkonsentrasi beribadah kepada Allah SWT, padahal dirinya masih mempunyai tanggung jawab yang mesti ditunaikan dalam ruang kehidupan duniawinya. Di sekelilingnya masih ada anak-anaknya yang harus bersekolah serta orang tuanya yang butuh perawatan dikarenakan telah berusia lanjut, sedangkan untuk menunaikan dan memenuhi  semua itu dibutuhkan sebuah langkah ikhtiar.

Saudaraku,

Ada sebuah nasihat buat kita yang disampaikan oleh syeikh Ibnu Atha’illah. Dalam sebuah kitabnya beliau berkata, bahwa “Keinginanmu untuk menyendiri dengan menghindarkan diri dari urusan duniawi, padahal Allah telah menempatkanmu ke dalam kelompok orang-orang yang harus berusaha untuk mendapatkan penghidupan duniawi adalah nafsu yang tersembunyi. Adapun keinginanmu untuk berusaha untuk mendapatkan penghidupan duniawi, padahal Allah telah menempatkanmu ke dalam golongan orang-orang yang menyendiri adalah suatu kemunduran dari semangat dan cita-cita yang tinggi”.

Dalam penjelasan yang lain, beliau menyebutkan bahwa watak yang di miliki oleh seorang yang benar adalah tidak meninggalkan dunia karena akhirat dan tidak meninggalkan akhirat disebabkan oleh dunia. Hubungan timbal balik di antara keduanya yang dikehendaki oleh islam merupakan suatu keharusan yang mesti di usahakan dan ditunjang oleh perilaku dan akhlak yang islami. Memfokuskan diri untuk beribadah karena hendak mentaati Allah dengan jalan menanggalkan usaha, sedangkan dirinya masih memerlukan usaha sebagai keperluan yang wajar secara duniawi, menurut beliau merupakan syahwat badani yang tidak pada tempatnya.

Saudaraku,

Semoga Allah SWT menganugerahkan kita petunjuk dan bimbingan serta menyinari hati kita sehingga mampu dengan benar dan mantap memandang kehidupan sebagai medan perjuangan di jalan-Nya dalam rangka untuk senantiasa menggapai ridho-Nya.

Astaghfirullahal ‘azhim

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

5 thoughts on “Memandang Kehidupan

  1. “Adu Domba Versi Lama”

    Dasar penjajah!!! Mereka ga pernah kapok & ga pernah menyerah untuk terus mencoba menguasai suatu negara, pulau, atw daerah yg menurut mereka sangat berharga & penting. Berbagai cara (baik terang-terangan, maupun terselubung) digunakan untuk mendapatkan apa yg mereka inginkan. Dan salah satu cara terselubung (licik) yg mereka gunakan adalah tak-tik adu domba. Yup! Mungkin sebagian dari kita ga sadar kalo sebenarnya bangsa kita hingga saat ini masih dijajah, dijajah, dan terus dijajah. Coba kita ingat kembali, setelah gagal memecah belah bangsa kita lewat perang antar beda agama, seperti yg terjadi di ambon dan sampit, mereka kini mencoba trik baru yakni perang antar sesama agama. Ya! Munculnya aliran2 baru dalam agama terbesar di tanah air ini sebenarnya adalah salah satu tipu daya para penjajah biadab untuk memecah belah rakyat Indonesia. Mereka ingin apa yg terjadi di Irak (perseteruan antara kaum Sunni dan Syiah) juga terjadi di negeri ini. Dan selanjutnya, setelah perang benar2 terjadi, mereka kemudian datang dengan dalih sebagai polisi/tentara perdamaian yg sebenarnya tujuan utama kedatangan mereka adalah semata-mata untuk (1) membuat keadaan semakin chaos, (2) menjual senjata, (3) menguasai daerah tersebut, dan (4) membuat pemerintahan baru dibawah kekuasaan pemimpin mereka. Jadi, bila ada kerabat, teman atw saudara anda yg mencoba mengajak anda untuk bergabung dalam aliran mereka dgn dalih apapun, maka sadarkanlah mereka. Masa depan bangsa & tanah air Indonesia ada di tangan anda!

  2. Syeikh Abdullah bin Alwi Al Haddad dalam sebuah syairnya menyebutkan, “Ambillah dunia yang sampai padamu, dan dengan itu berjuanglah menuju Tuhanmu. Berjuanglah dengan penuh kesungguhan dan kemudian perhitungkanlah”

    Siapa yg memikirkan akhiratnya.. maka akhirat kita dapat + dunia juga dapat..
    Siapa yg hanya memikirkan dunianya.. maka akhirat kita tidak dapat.. kita hanya dapat dunia saja.. dan itupun tidak semuanya, tetapi hanya sedikit..

  3. Assalamualaykum wr.wb

    Salah satu contoh meninggalkan dunia demi akherat sepenuhnya adalah seseorang yg tidak mau menikah seumur hidup demi mengabdi untuk agamanya, pdhl Nabi Muhammad SAW seorang Nabi dan Rasul, tp ia jg menikah dan tidak meninggalkan dunia.

    Memang harus ada keseimbangan antara dunia dan akherat, krn jk manusia meninggalkan dunia, berarti ia melupakan bahwa dirinya telah dipilih menjadi Khalifah di muka bumi, berarti dia jg harus bisa menjadi pemimpin di bumi Allah SWT tanpa harus meninggalkan akheratnya krn di sisi lain ia jg sebagai hamba Allah SWT.

    wassalam,
    mbak diah

  4. tulisan yang bagus untuk bahan renungan , makasih 😉

    abang arsip aku balikin ke awal aja deh yg sekarang malah jelak, trus abang dapet pic u/ postingan dari mana seh, bagus2 banget mau donk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s