Rumahku, Surgaku

Biru-NyaBagi yang sudah berkeluarga, kembali berkumpul bersama anak-anak dan istri, setelah seharian bekerja dan beraktifitas di luar rumah merupakan sebuah hal yang paling membahagiakan. Disambut oleh istri tercinta, terlebih oleh senyum sang buah hati, cahaya mata terkasih, sungguh menjadikan rasa lelah seolah-olah tak pernah menghinggapi. Memang, begitulah hal yang semestinya berlaku saat seseorang berada bersama keluarga. Saat berada bersama anggota keluarga di rumah menjadikan energi dan semangatnya berbuat dan beribadah kembali terisi.

Tidak ada cita-cita yang terlintas dibenak sang kepala keluarga selain dapat menjadikan anggota keluarganya semakin ingat kepada Allah SWT, menghiasi setiap waktunya dengan tambahan ilmu agama dan umum, serta menumbuhkan kedewasaan dan rasa kasih sayang diantara anggotanya. Namun tahukah, bahwa tidak sedikit dari orang-orang yang telah menikah dan berkeluarga yang merasa tidak betah ketika berkumpul bersama, namun lebih merasa bahagia dan nyaman ketika bersama teman-teman yang se-hobi dengannya.

Rumah tidak lagi berfungsi menjadi tempat untuk saling bertukar pendapat ataupun penyelesaian masalah-masalah kecil dan besar yang dihadapi oleh anggota keluarga. Rumah jauh dari hal-hal yang menjadikan anggotanya terdorong untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan keagamaan. Semua jadi terasa hambar. Rumah tidak lain hanya sebagai tempat istirahat seperti penginapan. Jarang terjalin sebuah kedewasaan dalam berkomunikasi diantara anggotanya. Komunikasi yang terjadipun tidak lebih dari tema persoalan perut dan kebutuhan sehari-hari. Setiap ada persoalan, kemarahan dan emosi yang tak terkendali menjadi hiasan dan pilihan.

Tidak ada lagi bahasan masalah amaliah, tentang hal-hal positif apa yang telah dibuat hari ini ataupun sebuah renungan bersama menjelang berangkat ke peraduan di setiap malamnya. Tentu saja, bagi siapapun yang memiliki keagungan cita-cita dalam berkeluarga, sebagai sarana dakwah dalam lingkup kecil, sebelum terjun ke lingkup yang lebih besar, pasti menginginkan peningkatan wawasan, baik dalam pengetahuan keagamaan, maupun peningkatan dalam hal ilmu-ilmu umum yang membantunya berbuat lebih banyak dan berguna dalam kehidupan.

Semoga Allah SWT memberi petunjuk dan bimbingan-Nya kepada kita, agar dapat menjadikan kehidupan berkeluarga sebagai tempat dan sarana perbaikan orientasi hidup, menjadikan tempat untuk saling ingat mengingatkan masalah perbaikan diri, peningkatan amal sholeh dan ibadah kita kepada Allah SWT. Dan kiranya Allah SWT jauhkan kita dari kelalaian, kebodohan dan kelengahan kepada-Nya dalam kehidupan berkeluarga.

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

13 thoughts on “Rumahku, Surgaku

  1. hmm.. rumahku syurgaku, indah dan menentramkan.. tapi ga mudah untuk mewujudkannya.
    perlu Tuhan setiap saat sebagai kekuatan, dasar dan tujuan dalam membina rumah tangga…

  2. Jadi kangen istri sama anak neh. soalnya udah 15 hari sendirian di rumah. anak istri merawat adek iparku yang habis melahirkan di tangerang. pulangnya masih 9 desember…
    btw, bener kalo rumah semua anggota keluarga inget Allah…baitiy jadi jannatiy….

  3. Rumah yang menyenangkan, adalah rumah yang membuat masing-masing anggota keluarga bebas beraktualisasi diri. Untuk itu dibutuhkan kerjasama yang baik oleh suami isteri. Ibarat tanaman, kehidupan suami harus dirawat, dipupuk, agar tumbuh subur. Jadi suami isteri harus saling menghormati…jika bisa seperti ini, maka siapapun akan ingin segera pulang kerumah jika tugasnya udah selesai.

    Namun demikian hobi masing-masing juga harus diteruskan, syukur jika antara suami isteri punya hobi sama, atau saling mendukung. Keluarga sehat apabila masing-masing orang dapat tetap mengembangkan hobinya, bergaul dengan teman-teman lamanya…walaupun dengan adanya suami/isteri maka teman2 tsb juga harus dikenalkan sehingga tak menimbulkan keraguan.

    Saya pernah menulis tentang hal tsb, berdasar pengalamanku dan cerita teman-teman yang keduanya bekerja di luar rumah, dapat dilihat di :
    1) http://edratna.wordpress.com/2007/02/25/
    bagaimana-membagi-waktu-sebagai-ibu-dan-isteri-
    agar-karir-dan-rumah-tangga-bisa-berjalan-bersama/.
    2) http://edratna.wordpress.com/2007/09/04/
    membangun-keharmonisan-dan-kebahagiaan-keluarga/,
    3) http://edratna.wordpress.com/2007/08/31/
    rumah-seperti-apakah-yang-menyenangkan/

    Terima kasih atas sharing ilmunya Bu, semoga bermanfaat untuk semua 🙂

  4. Bagi yang sudah berkeluarga,……..

    kalimat ini mengawali postingan kali ini..
    mmhh.. gimana yah, diriku kan masih jomblo, single, alias belom berkeluarga..
    ckckckc… 😀 🙂

    Tapi teuteup jadi rindu rumahh… Aku Ingin Pulang..:)

    salam kenal. best regards.

    hehe…Kalo prasyaratnya cukup, kenapa tidak segera menikah? Terima kasih atas kunjungannya. Salam kenal kembali dari saya 🙂

  5. Ya, ya, idealnya memang rumah bisa dijadikan sebagai syurga. Bukan hanya sebagai tempat beristirahat belaka. Penanaman nilai-nilai budaya, religi, moral, dan kemanusiaan pun bisa dilakukan di sini. namun, seiring dengan kemajuan peradaban, rumah justru hanya bermakna biologis semata. Hanya untuk singgah sebentar, lantas pergi lagi, memburu kesibukan dan gebyar materi. Kasihan tuh anak2 sering kehilangan kasih sayang dan perhatian orang tua di rumah. Moga2 aja makin banyak keluarga yang menyadarinya. Salam.

  6. Doain ya aku paling lama tahun depan

    Amin Allahumma Amin…Saya doakan buat Landy paling cepat akhir tahun ini dan paling lambat awal tahun depan 😉

  7. Subhanallah, semoga kita bisa menjadikan rumah kita seperti kata Rasul “baitii jannatii”. Hidup dalam keharmonisan dalam lingkup Islam yang kaafah.Amiin

    Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s