Kerelaan Diri dan Merasa Cukup

Wajah-Wajah Kepolosanย 

Rasa tidak puas atas apa yang diterima dalam kehidupan seringkali menjadikan manusia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma yang di anut. Terkadang, ukuran kecukupan dalam perolehan apapun di dunia ini dipandang begitu relatif, kecuali bagi orang-orang yang sadar dan mencukupkan dirinya dengan segala hal yang telah ia terima.

Kita bisa menyaksikan, bagaimana kesudahan orang-orang terkenal dalam beberapa bidang kehidupan, yang jelas-jelas terpenuhi secara materi, dimana hartanya berlimpah, memiliki anak-anak yang sehat dan lucu, keluarga yang sejahtera serta hampir tak pernah susah untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan dalam hidup, namun masih saja terlibat banyak kasus-kasus kejahatan yang akhirnya menghantarkan diri mereka masuk ke dalam penjara sebagai akibat pelanggaran hukum.

Sungguh, diri kita tidak akan merasa puas jika masih saja melihat ke kiri dan ke kanan dan selalu saja terpancing untuk membanding-bandingkan sesuatu yang kita peroleh dengan apa yang telah diperoleh oleh orang lain. Bak di halaman rumah kita terbentang rumput yang hijau, namun kita masih saja memandang bahwa rumput tetangga jauh lebih hijau.

Berbeda jika kita mampu melihat segala kelebihan yang terdapat pada diri seseorang sebagai sebuah hal yang menjadikan diri kita terpacu dalam semangat berbuat yang terbaik dalam rangka peningkatan kualitas diri dalam hal-hal yang positif serta sesuai kebutuhan, dengan berjalan dalam kerangka ikhtiar berupa usaha yang nyata, tanpa harus kecewa dikarenakan akhirnya tidak mampu berbuat dan mendapatkan hasil semaksimal apa yang diperoleh oleh orang lain tersebut.

Perjalanan hidup terus berlanjut dan seharusnya diri kita ikut merasa gembira, di saat orang-orang memperoleh kenikmatan tanpa membuat hati kita menjadi dengki atas segala kelebihan yang telah diterima oleh orang lain. Tak ada hal yang perlu kita banggakan atas segala perolehan seperti pangkat, jabatan serta harta kekayaan, karena pada dasarnya semua itu merupakan titipan-Nya. Dan tak ada satu hal pun yang mesti kita dengkikan dari kenikmatan yang diperoleh orang lain, karena sesungguhnya, segala sesuatu telah diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT dengan ukuran-ukuran keadilan-Nya. Jika terdapat kesadaran seperti itu, maka kerelaan diri serta rasa berbaik sangka kepada-Nya akan senantiasa melingkupi.

Namun terkadang karena keterbatasan ilmu menjadikan diri kita tak mampu untuk membacanya dengan baik. Dengan berbaik sangka kepada-Nya, dan rela serta bersyukur dengan segala hal dan ketetapan-ketetapan yang kita terima, merupakan satu hal yang dapat menyelamatkan diri kita dari bisikan rasa tidak puas, sifat tamak dan merasa diberlakukan tidak adil oleh Allah SWT.

Semoga Allah SWT dengan Rahman dan Rahim-Nya menguatkan dan menetapkan iman kita untuk terus mengarungi sisa hidup ini dengan senantiasa tersenyum serta berbaik sangka kepada-Nya dan sesama makhluk-Nya.

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

7 thoughts on “Kerelaan Diri dan Merasa Cukup

  1. Wah artikel nya sesuai sekali dengan proses pencarian diri saya. Terima kasih sudah menambah referensi saya.

    Salam kenal

    Alhamdulillah, sama-sama Mas. Salam kenal kembali ๐Ÿ™‚

  2. sepertinya bersyukur akan membuat kita lebih puas dan menerima rezeki yang telah kita peroleh,bukan pasrah yang tanpa usaha

    salam kenal

    Setuju…Salam kenal kembali ๐Ÿ™‚ . Terima kasih telah berkunjung..

  3. assalammu’alaikum, wah lama ga mampir kesini banyak perubahan baik isi maupun template lebih berbobot.

    Wa’alaikumussalam Mas Adit, Alhamdulillah ๐Ÿ™‚ . Makasih sudah singgah ya

  4. Dari Ibnu Umar ra dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidak dibolehkan hasad ( iri hati ), kecuali terhadap dua orang: Seseorang yang Allah beri dia dengan al-qur’an kemudian dia berdiri membacanya diwaktu malam dan siang, dan seseorang yang Allah beri dia harta kekayaan, kemudian dia menginfakkannya di waktu malam dan siang.

    Hasad dengan makna risyk yang dalam bahasa disebut ghibthah ( sifat ingin berlomba-lomba ). Adapun perbedaan antara hasad dan ghibthah, hasad adalah seseorang yang apabila orang lain memiliki sesuatu, maka ia ingin agar sesuatu itu hilang dari orang yang memilikinya, baik ia mendapatkannya ataupun tidak. sedangkan Ghibthah adalah ia mengiginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, baik orang lain kehilangan atau tidak. ia berusaha untuk memilikinya. dan Ghibthah dalam masalah dunia dibolehkan, dan dalam masalah agama mustahab ( lebih disukai ).

    Wallahu’alam

  5. Rasa tak cukup itu sering terhadap perkara2 yang disukai nafsu jahat, sebaliknya perkara2 yang disukai iman sering dirasai cukup, malah terasa sudah banyak sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s