Berhenti Sejenak

Berhenti Sejenak 

Tidak semua hal yang kita dengar mesti kita ceritakan kembali. Dan tidak semua hal yang menjadi kesenangan kita mesti selalu kita penuhi. Alangkah baiknya jika semua hal yang ingin kita perbuat senantiasa ditimbang dalam ukuran baik dan buruk, maslahat dan mudharat, menguntungkan dan merugikan, menghibur orang kah atau malah menyakiti hati yang akhirnya melahirkan rasa benci.

Bagi seorang muslim khususnya, didalam setiap tindakan, bukan sikap nekat yang menjadi pijakan, sehingga tertuang segala hal yang terpendam, namun semata-mata setiap perbuatan terwujud dalam niat mencapai keridhoaan Allah SWT serta niat ingin meneladani dan membahagiakan Rasulullah SAW. Dalam setiap kesempatan, tindakan dan juga perkataan, manusia, hewan atau siapapun semestinya merasa aman dari lidah maupun tangan kita.

Seorang manusia memiliki beberapa indera. Ada mata untuk melihat, ada hidung untuk mencium bau-bauan, ada mulut untuk berbicara, ada telinga untuk mendengar dan ada lidah untuk mengecap rasa. Kita diberi mata, yang dengannya segala hal mampu kita lihat. Namun apakah semua hal harus dan boleh kita lihat tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk serta mengancam keyakinan serta melunturkan nilai-nilai akhlak kita?

Kita diberi telinga, yang dengannya kita mampu mendengar suara apapun. Namun apakah segala hal harus kita dengar tanpa menyaring dan menimbangnya? Tidak dipungkiri, di akhir zaman semakin berlimpah ruah sajian-sajian yang tanpa kita sadari perlahan-lahan tengah mengikis kesadaran keberagamaan kita. Begitu leluasanya budaya permisif masuk dan berkeliaran dalam kehidupan kita seiring kemajuan teknologi dan hadirnya globalisasi.

Sungguh, terkadang kita terlupa, bahwa diri kita ini merupakan seorang manusia yang beragama, yang terikat aturan ilahiah dalam menjalani setiap gerak langkah kehidupan. Bagi seorang muslim, gerak kehidupannya bukanlah dilakukan berdasarkan suka atau tidak suka semata, melainkan dilakukan menurut aturan-aturan dan kehendak Allah SWT dan Rasul-Nya.

Mari bersama kita menyadari, bahwa berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam sebuah kesadaran langkah hidup amat kita perlukan, bermohon petunjuk hidayah dan bimbingan Allah SWT, dikarenakan kita cenderung berada dalam kelalaian dan kekhilafan, serta berharap kiranya Allah SWT sudi menutupi setiap kekurangan-kekurangan kita, dalam setiap jejak amal ibadah yang telah kita torehkan dan persembahkan untuk-Nya selama ini.

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

6 thoughts on “Berhenti Sejenak

  1. Assalamu’alaikum….
    Allah…. Betapa berhenti sejenak, mengingatkan aku tentang gerakan sholat. Itulah pertanda tuma’ninah. Dan seyogyanya begitulah aplikasi dalam kehidupan ini. “Faidza faraghtafanshob wailaa rabbika farghab”.
    Wassalamu’alaikum

  2. Tanpa sadar kita memang lebih banyak berbicara dibandingkan diam. Padahal lebih banyak diam besar sekali efeknya. Beberapa ulama bahkan mengambil cukup banyak waktu untuk melakukan “puasa diam” sehingga mereka bisa lebih banyak mendengar nuraninya bicara, bertafakkur, merenung, muhasabah, dan berfikir. Hasilnya sungguh luar biasa. Apalagi kalau dilakukan dalam keadaan “selalu berwudhu”.

  3. Subhanallah..tulisan ini bagus, menyentuh n dalam banget. terima kasih, bang. sangat bermanfaat n pencerahan bagi saya

    Alhamdulillah, sama-sama 🙂

  4. waalaikum salam…. kabar baik bang… iya bang sdh lama kita gak saling berkunjung, lagi sibuk ya bang…. ??? salam silahturhmi kembali… semangat…

    🙂 , Nggak juga, cuma mungkin terlalu banyak foukusnya sehingga satu rekan terlupakan :mrgreen: . Oke Bang Dhika, tetap semangat dan semoga berkah aktifitas hari ini..

  5. Jika terjadi perubahan sifat dari dalam diri yang pada awal mulanya pendiam kemudian menjadi “bawel” tentunya akan sulit untuk “mengerem” lidah. Dibutuhkan kekuatan dari dalam dan luar diri orang tersebut untuk menghentikan sifat yang baru tersebut.

    Terkadang sesuatu yang sudah terucap menimbulkan penyesalan yang mendalam dan itu berbekas kepada selain yang mengucapkan juga kepada orang yang dibicarakan.

    Hanya kuasa Allohlah yang bisa menutup kekurangan orang tersebut dan niat yang sungguh dari orang tersebut.

    salam,
    Aries

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s