Pelajaran Dari Sebuah Guci

guci2.jpgDalam hidup, ada saat dimana kita akan berhadapan dengan banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Tidak selamanya jalanan yang kita lalui tampak lurus tanpa lubang dan kelok. Selalu saja ada ujian yang singgah, sebagai bagian yang sejatinya dapat mendewasakan diri kita dalam menapaki langkah-langkah hidup yang terus kita ayun. Saudaraku, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah sebuah guci yang cantik yang terpajang di sudut ruangan. Si guci pada awalnya tidaklah tampak cantik seperti yang kita lihat menghiasi sudut ruang tamu di rumah kita.

Dia sebelumnya hanyalah merupakan sebongkah tanah liat yang di bentuk dari beberapa proses “menyakitkan”. Kenapa “menyakitkan”? Bayangkan saja, dalam proses awal pembuatannya, si guci telah beberapa kali mengalami tempaan yang keras. Dihempas diatas permukaan landasan cetakan yang berputar, dipukul-pukul badannya, lalu dibuat berdiri dengan cara ditarik ke sisi atas sesuai keinginan sang pengrajin.
Lanjutkan membaca “Pelajaran Dari Sebuah Guci”

Saling Bernasehat

world_drop.gifSaudaraku,

Mungkin diri kita lebih banyak merasa bahwa segala sesuatu yang kita lakukan sudah berjalan dalam koridor yang benar, tak perlu sebuah koreksi yang mendalam, dan tampak sudah dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga terkadang diri kita tak membutuhkan lagi masukan saran dan nasehat dari luar. Namun perlu disadari, bahwa mungkin ada sebagian dari kita yang tidak tahu atau bahkan terlupa jika dirinya telah berbuat kesalahan bahkan tergolong mendholimi, namun baginya hanya terlihat sebagai sebuah perkara kecil biasa yang tidak akan berdampak serius bagi pihak lain, karena menganggap dirinya berposisi sebagai seorang penguasa suatu kaum yang bisa berbuat sesuka hati.

Dikisahkan bahwa dahulu sewaktu dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta nasehat kepada para ulama. Salim bin Abdullah, salah seorang ulama saat itu pun menasihatinya dengan berkata, “Wahai khalifah! Jadikanlah seluruh rakyat sebagai ayah, saudara, dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu. Peliharalah hubungan baik dengan saudara-saudaramu, dan sayangilah anakmu.”
Lanjutkan membaca “Saling Bernasehat”

Di Sudut Munajat

Di Keheningan MalamDahulu, saat kesulitan menerpamu, engkau selalu bersegera mendatangi-Nya. Saat rasa gelisah,  gundah dan kecewa menyelimutimu, engkau tersungkur menangis di hadapan-Nya. Begitu besar rasa ketergantunganmu kepada-Nya hingga tak satu detik pun rela kau lepaskan dalam pelukan hawa nafsu lalu berpaling dari-Nya. Rugi terasa bila terlewat saat-saat sepi bermohon mengadu kepada-Nya. Bak sebuah romantisme yang tak tertuang lewat goresan tinta, Syahdu, mendayu, membuat hati senantiasa merindu.

Namun ternyata, dirimu tak setegar seperti diduga. Jatuh layu selalu saja datang mendera. Engkau masih saja lincah bermain di kubangan lalai dan dosa. Tak pernah letih mengais sesuatu yang tak berguna. Rupanya anugerah, tak membuatmu semakin berkaca. Berkaca dalam bingkaian rasa hamba kepada-Nya. Rupanya engkau masih saja, mengikuti jejak seorang sa’labah. Seorang hamba yang melupakan kemurahan Tuhannya. Di saat susah, ia mengiba, penuh cita dan tekad dalam kebaikan membara. Namun, tatkala kenikmatan telah melimpah, semua seolah terlupa. Janji-janjinya dahulu seolah tak pernah ada.
Lanjutkan membaca “Di Sudut Munajat”

Dalam Sisa Waktu

clock365 hari yang ada di tahun 2007 akan segera berlalu dan berganti dengan 365 hari di tahun yang baru, tahun 2008 Masehi. Waktu terus berlalu. Dan begitu banyak pula hal-hal yang telah kita ukir disepanjang hari-hari yang berlalu itu. Tidak semua hari-hari itu kita lalui dengan senyum, tawa dan canda, melainkan juga terisi dengan berbagai peristiwa memilukan, mengharukan atau bahkan mengetuk nurani yang akhirnya membangunkan dan menyadarkan diri kita.

Mungkin di tahun ini ada yang ditinggal mati oleh salah seorang anggota keluarganya. Mungkin di tahun ini, ada yang tanpa di duga terkena PHK oleh perusahaannya, atau mungkin ada sebagian dari kita di tahun ini yang hanya bisa menghabiskan waktunya dalam keadaan terbaring di peraduan dalam kondisi dirawat karena sakit kronis.
Lanjutkan membaca “Dalam Sisa Waktu”

Akankah Rasa Kasih Sayang Menjadi Sebuah Barang Langka?

Setiap diri kita pasti merindukan hadirnya rasa kasih dan sayang dalam kehidupan. Rasa kasih sayang yang akan membawa kedamaian dan ketentraman. Rasa kasih sayang yang tulus yang akan memberikan rasa aman. Sungguh indah rasanya, bila masing-masing dari kita mau menjamin, bahwa diri kita menjadi aman bagi orang lain, dan orang lain pun menjamin dirinya menjadi aman bagi diri kita.Siapakah orangnya yang tak ingin dikasihi dan mengasihi? Diperhatikan keadaannya, didengarkan setiap perkataannya, dan dihargai keberadaannya.

Seperti apakah rasa hidup ini tanpa hadirnya rasa cinta dan kasih sayang? Dan seperti apa pula rasa hidup ini, jika hanya rasa benci saja yang senantiasa dipupuk dan disebar dalam setiap kata dan perbuatan? Pasti semua terasa hambar, menyakitkan dan tiada kesan kedamaian. Dada terasa sempit, wajah terlihat masam, jauh dari kehadiran senyuman. Kehidupan selalu dipenuhi rasa permusuhan serta dicengkeram rasa ketakutan. Memandang kepada sesama manusia tidak lagi dengan pandangan yang teduh. Banyak hal yang dipandang dengan sinis dan curiga, jauh dari pikiran yang terbuka, prasangka baik dan kelapangan hati.
Lanjutkan membaca “Akankah Rasa Kasih Sayang Menjadi Sebuah Barang Langka?”

Sebelum Terlambat

old-manKulihat dirinya semakin lemah, seolah tiada daya. Saat ia mengayunkan kaki untuk melangkah, terlihat begitu berat dan susah. Tangannya mulai terlihat bergemetar, menggigil walau hanya sekedar mengangkat sesendok nasi yang kemudian ia suapkan ke mulutnya. Suaranya semakin parau, tidak segagah dan selantang dahulu, sewaktu usia mudanya. Satu persatu helai rambutnya semakin memutih dan kulitnya semakin keriput, tidak kencang dan mulus seperti dulu. Sesekali ia terlihat murung, lalu kemudian tampak menitikkan air mata, dan dari bibirnya terucap banyak kata penyesalan atas segala keburukan yang pernah ia lakukan di masa mudanya.

Begitulah sebagian gambaran masa tua dari seorang manusia yang menyesali masa mudanya. Masa muda yang tidak mampu ia manfaatkan dengan baik dan untuk berbuat kebaikan. Kini, di saat usianya semakin senja, baru ia merasa dan tersadar, bahwa seharusnya dahulu, di masa mudanya, mampu ia ukir dengan banyak kebaikan dan prestasi hidup yang positif, dimana di masa tua, banyak kemampuan fisik semakin menurun kinerjanya. Saat dimana langkah-langkah kaki sudah tidak terlihat tegap dan sesigap masa muda dulu. 
Lanjutkan membaca “Sebelum Terlambat”

Bertanya Pada Diri Sendiri

Ask Yourself! 

Wahai diriku, apa kabarmu hari ini? Adakah engkau dalam keadaan sehat lahir dan batin? Masihkah senyum manis menghiasi bibirmu? Masihkah langkah hidup terasa ringan engkau ayunkan atau malah terasa berat sekali? Masihkah engkau bergegas untuk menjawab panggilan-Nya disaat adzan berkumandang? Adakah perasaan malas dan menunda mulai hinggap di hatimu untuk berbuat kebaikan? Masihkah ucapan istighfar sebagai rasa sesal membasahi bibirmu, untuk setiap ucapan yang nista, pandangan mata yang tak seharusnya, serta bisikan jahat pada hatimu yang akhirnya engkau lahirkan dalam wujud perbuatan?

Lanjutkan membaca “Bertanya Pada Diri Sendiri”