Di Sudut Munajat

Di Keheningan MalamDahulu, saat kesulitan menerpamu, engkau selalu bersegera mendatangi-Nya. Saat rasa gelisah,  gundah dan kecewa menyelimutimu, engkau tersungkur menangis di hadapan-Nya. Begitu besar rasa ketergantunganmu kepada-Nya hingga tak satu detik pun rela kau lepaskan dalam pelukan hawa nafsu lalu berpaling dari-Nya. Rugi terasa bila terlewat saat-saat sepi bermohon mengadu kepada-Nya. Bak sebuah romantisme yang tak tertuang lewat goresan tinta, Syahdu, mendayu, membuat hati senantiasa merindu.

Namun ternyata, dirimu tak setegar seperti diduga. Jatuh layu selalu saja datang mendera. Engkau masih saja lincah bermain di kubangan lalai dan dosa. Tak pernah letih mengais sesuatu yang tak berguna. Rupanya anugerah, tak membuatmu semakin berkaca. Berkaca dalam bingkaian rasa hamba kepada-Nya. Rupanya engkau masih saja, mengikuti jejak seorang sa’labah. Seorang hamba yang melupakan kemurahan Tuhannya. Di saat susah, ia mengiba, penuh cita dan tekad dalam kebaikan membara. Namun, tatkala kenikmatan telah melimpah, semua seolah terlupa. Janji-janjinya dahulu seolah tak pernah ada.
Lanjutkan membaca “Di Sudut Munajat”