Saling Bernasehat

world_drop.gifSaudaraku,

Mungkin diri kita lebih banyak merasa bahwa segala sesuatu yang kita lakukan sudah berjalan dalam koridor yang benar, tak perlu sebuah koreksi yang mendalam, dan tampak sudah dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga terkadang diri kita tak membutuhkan lagi masukan saran dan nasehat dari luar. Namun perlu disadari, bahwa mungkin ada sebagian dari kita yang tidak tahu atau bahkan terlupa jika dirinya telah berbuat kesalahan bahkan tergolong mendholimi, namun baginya hanya terlihat sebagai sebuah perkara kecil biasa yang tidak akan berdampak serius bagi pihak lain, karena menganggap dirinya berposisi sebagai seorang penguasa suatu kaum yang bisa berbuat sesuka hati.

Dikisahkan bahwa dahulu sewaktu dilantik menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz meminta nasehat kepada para ulama. Salim bin Abdullah, salah seorang ulama saat itu pun menasihatinya dengan berkata, “Wahai khalifah! Jadikanlah seluruh rakyat sebagai ayah, saudara, dan anakmu. Berbaktilah kepada ayahmu. Peliharalah hubungan baik dengan saudara-saudaramu, dan sayangilah anakmu.”

Selanjutnya, Muhammad bin Ka’ab, seorang ulama lainnya juga bernasehat dengan berkata, “Wahai khalifah! Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, dan bencilah sesuatu untuk orang lain sebagaimana engkau membenci sesuatu untuk dirimu sendiri.”

Hasan al Bashri, sebagai salah seorang dari ulama yang ada saat itupun tidak lupa juga untuk memberikan nasehatnya kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan berkata, “Demi Allah, aku telah bergaul dengan banyak orang yang sedap dipandang oleh mata dan tutur katanya menyentuh hati. Ucapan mereka adalah penawar bagi apa yang ada di dalam dada. Memelihara diri dengan yang halal lebih mereka utamakan daripada menjaga diri dari yang haram.

Perhatian mereka terhadap sholat sunnah lebih besar daripada perhatian kita terhadap sholat fardhu. Mereka menutupi kebaikan-kebaikan mereka sebagaimana kita menutupi segala keburukan-keburukan diri kita. Mereka menangis jika berbuat kebaikan sedangkan kita tertawa jika berbuat kesalahan.”

Semua nasehat di atas didengarkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz sambil menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

Saudaraku,

Setiap orang sesungguhnya butuh masukan, nasehat yang baik juga membangun, untuk dapat terus berjalan dengan baik dan benar dalam menapaki langkah di kehidupan ini. Tidak memandang apakah dirinya seorang penguasa tertinggi dalam pemerintahan, senior dalam lingkungan kerja, ataupun hanya seorang rakyat biasa.

Dan sudah seharusnya setiap diri terbuka untuk hal itu dalam setiap kesempatan, karena bisa jadi tanpa disadari diri kita merupakan golongan orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, sehingga membutuhkan banyak belajar dan tempat bertanya, ataupun orang yang tidak tahu bahwa dirinya tahu, sehingga butuh orang lain untuk mengingatkan akan kelalaian diri kita.

Semoga Allah SWT senantiasa melapangkan hati kita, sehingga mudah untuk mendengarkan masukan nasehat dan hikmah dari siapapun, serta tidak menolak sebuah kebenaran yang datang dan merendahkan kedudukan orang lain.

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

13 thoughts on “Saling Bernasehat

  1. saling mengingatkan memang penting…..!
    tapi kalo orang yang di ingatkan tidak menanggapi mau bagai mana lagi.
    saya juga pernah bertemu orang yang selalu membarikan nasehat tapi salama saya mngenal org itu, dia selalu menjilat ludahnya sendiri????

    Dalam bernasehat, tugas kita hanya menyampaikan. Masalah mau diterima atau tidak, semuanya kembali kepada Allah SWT, Sang pembuka pintu hidayah. Jika nasehat yg dilakukannya semata-mata mencari ridho Allah, insya Allah yang menyampaikan tidak akan menjilat ludahnya sendiri, malahan dia bisa jadi mulia di sisi Allah SWT karena telah ikut peduli akan sebuah kebaikan dan kebenaran dan tergerak untuk menyampaikan kepada orang lain 😀 . Wallahu a’lam

  2. betul mas.

    Maksud saya, karena di akhir zaman ini sudah terlalu banyak orang yang mati hatinya (bahkan jangan-jangan kita sendiri sudah mati hatinya), perlu kesabaran ekstra dalam memberi nasehat.

    Kalau orang itu tidak mau terima nasehat baik yang kita nesehatkan, kita pun perlu muhasabah, jangan-jangan kita sendiri belum amalkan nasehat itu. Kita nampak besar kesalahan orang sedangkan kesalahan kita sendiri yang di pelupuk mata sama sekali tidak nampak 😦

    Itu akibat kita sudah tidak mendapat didikan ruhani

  3. Nasehat akan susah diterima oleh orang yang sudah mati hatinya

    Saudaraku,
    ibarat tetes air yang senantiasa jatuh dipermukaan batu yg keras, pada akhirnya akan mampu melubangi batu yg keras tersebut. Begitulah kira-kira persamaannya dengan nasehat menurut saya, dan urusan hidayah, kita serahkan semata-mata pada kuasa Allah SWT, karena Dia-lah yang Maha membolak-balikkan hati hambanya 🙂

  4. sudah lama tak berkunjung….

    tiang agama islam adalah nasehat, jika banyak diantara umat muslim yang meninggalkan budaya nasehat sunggung agama ini takkan besar karena dengan nasehatlah kita bisa melihat kesalahan untuk kemudian diperbaiki.

    nasehat dan kritik juga menjadi proses menuju kematangan pribadi dan kematangan iman.

  5. assalamu’alaikum wr wb,
    tulisan-tulisannya menginspirasi sekali..
    jazakullah khairan katsir 🙂

    wassalamu’alaikum wr wb

    Wa’alaikumussalam wr wb,
    Alhamdulillahirobbi ‘alamiin..amin Allahumma amin..Terima kasih sudah singgah 🙂

  6. assalamualaikum..saudara yang jauh… pekabarr…? ana alhamdullillah..sehat…ana ade satu soalan.. ana nggakk brapa pahamm ttg maksud barang langka…? dlm ntri yang bertajuk “akan kan rasa kasih sayang menjadi barang langka.” ape maksud nye…?

    moga saudara leh bg penjelasan yang jelas.. 🙂 terima kasih..moga dlm lindungan ALLAH selalu..amin.. 🙂

    Wa’alaikumussalam wr wb saudaraku,
    Alhamdulillah, saye sihat. smoga antum juga demikian. Untuk maksud “Barang langka” itu adalah sesuatu yang sudah sulit di temukan/di jumpai. itu maksudnya. Smoga dapat memberi sedikit penjelasan kepada antum 🙂 . Amin…Jazakallah atas do’anya 🙂

  7. sangatlah penting untuk saling mengingatkan. Tetapi mengingatkan dalam hal yang positif. Terkadang banyak juga manusia yang selalu mengingatkan tatkala dia memanfaatkan kesempatan disetiap keadaan.

    Sungguh pun demikian, manusia tetaplah manusia. Sosok makhluk yang tetap akan dan tidak akan berubah kalau tidak ingin berubah

    Itulah kita, seorang hamba yang tentu butuh kasih sayang & pertolongan Allah SWTdalam setiap keadaan. Sesungguhnya kita membutuhkan-Nya dalam setiap sisi kehidupan kita. dan tiada tempat bergantung kecuali kepada Allah SWT. Terima kasih atas kunjungannya 🙂

  8. sepakat mas rozy…Hanya saja hati yang keras, terutama yang punya gengsi tinggi, sombong akan susah nasehat itu bisa meresap. karena sombong itu menolak kebenaran….

    Iya Mas Anshori. Smoga Allah SWT lindungi kita dari hal demikian. Terima kasih atas kunjungannya 🙂

  9. setuju banget mas rozy. saling mengingatkan itu perlu karena manusia itu punya sifat lupa, bahkan novelis cheko, millan kundera, pernah bilang, salah perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa.

  10. Iya mas, memang penting untuk saling mengingatkan. Seperti kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, Gajah di pelupuk mata tak tampak”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s