Pelajaran Dari Sebuah Guci

guci2.jpgDalam hidup, ada saat dimana kita akan berhadapan dengan banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan. Tidak selamanya jalanan yang kita lalui tampak lurus tanpa lubang dan kelok. Selalu saja ada ujian yang singgah, sebagai bagian yang sejatinya dapat mendewasakan diri kita dalam menapaki langkah-langkah hidup yang terus kita ayun. Saudaraku, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah sebuah guci yang cantik yang terpajang di sudut ruangan. Si guci pada awalnya tidaklah tampak cantik seperti yang kita lihat menghiasi sudut ruang tamu di rumah kita.

Dia sebelumnya hanyalah merupakan sebongkah tanah liat yang di bentuk dari beberapa proses “menyakitkan”. Kenapa “menyakitkan”? Bayangkan saja, dalam proses awal pembuatannya, si guci telah beberapa kali mengalami tempaan yang keras. Dihempas diatas permukaan landasan cetakan yang berputar, dipukul-pukul badannya, lalu dibuat berdiri dengan cara ditarik ke sisi atas sesuai keinginan sang pengrajin.

Tak lupa, badan si guci pun diguyur dengan air. Untuk sesaat, sang pengrajin memandangi dengan seksama bentuk si guci apakah bentuknya sudah sempurna atau belum. Jika belum, si guci pun kembali dibuat sakit dan menderita karena tubuhnya dipukul-pukul dan diremas kembali ke bentuk semula, berupa onggokan tanah liat. Namun, jika bentuknya telah sesuai dengan keinginan sang pengrajin, si guci pun bisa bernafas lega sesaat namun akan segera menuju ke fase “menyakitkan” berikutnya, dijemur dibawah terik matahari agar tubuh si guci bisa segera kering.

Ujian bagi si guci pun tidak selesai sampai disitu. Setelah kering, si guci pun dibawa ke sebuah tempat yang lebih panas dan menyayat, berupa tempat pembakaran terakhir. Bisa kita bayangkan, bagaimana panasnya api. Jangankan terjilat olehnya, mendekat saja dalam liukan nyalanya kita sudah merasa kepanasan. Tapi itulah tahap menyakitkan terakhir yang dirasakan oleh si guci sebelum akhirnya ia dihias dengan warna warni yang indah, yang membuatnya menjadi kelihatan menarik dipandang mata dan menawan hati saat dipajang, yang kemudian menghias sudut ruang tamu rumah kita.

Saudaraku,

Keceriaan itu kadangkala akan ditemani oleh kekecewaan. Tawa yang riang, tidak akan terasa lengkap tanpa dihiasi oleh air mata kesedihan. Seiring bertambahnya usia dan berkurangnya jatah umur kita, ujian akan selalu hadir dalam kehidupan. Walau demikian, tetaplah tersenyum sebagai langkah untuk sedikit meringankan beban di hati kita. Karena dengan begitu, kita telah berusaha untuk  membuka satu pintu kebahagiaan. Tetaplah tegar dalam rasa keimanan dan kehambaan kepada-Nya dan lanjutkan berdo’a, semoga kekuatan dan ridho-Nya senantiasa meliputi diri dan hati agar terjauh dari rasa putus asa akan curahan rahmat-Nya.

Tidaklah ujian itu melebihi kapasitas diri kita sebagai insan yang mengaku beriman dan cinta kepada-Nya. Dan sesungguhnya, sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan.

Semoga setiap ujian yang hadir dalam hidup kita, semakin menambah rasa keimanan dan penghambaan kepada-Nya, menambah rasa syukur dan usaha untuk semakin mengenal-Nya, mematangkan diri dan jiwa menjadi lebih baik dalam mengarungi samudera kehidupan, sebagaimana kisah perjalanan diri sebuah guci di atas.

Semoga setiap ujian yang hadir, merupakan sebuah bentuk pembersihan diri kita dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan, supaya kelak menjadi hamba yang kembali dalam pangkuan ridho-Nya dan untuk kembali menyadarkan diri kita akan ke-Maha Besaran Allah SWT, dimana sesungguhnya hanya Dia-lah satu-satunya tempat kembali dan bergantung semua makhluk.

Wallahu a’lam

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

32 thoughts on “Pelajaran Dari Sebuah Guci

  1. subhanallah…
    terkadang kita dg ujian yg kecil sudah merasa putus asa,
    seperti sudah ga sanggup ngejalanin’y
    ngerasa ujian itu sangat berat.
    ya Allah aku kalah dg sebuah guci
    padahal dibalik itu semua masih blm ada apa-apanya dibandingkan dengan sebuah pengorbanan si guci untuk mencapai kesempurnaan.

  2. Aslkum,….
    senegnya yach bsa selalu mengingat sebuah “guci” ntu…..
    prosees pembwtannnya yg panjang n kesabrannya yg dalm….

  3. Assalamu’alaikum,afwan baru masuk,dan semoga ini adalah hidayah Allah atas kraguan dalam hatiku,salam kenal dan semoga barakah,

  4. Assalaamu ‘alaikum
    Cara menyampaikan sebuah nasihat yang sangat mudah dicerna. Mata saya khusyuk membaca kata demi kata postingan ini… Alhamdulillah, saya dapat oleh-oleh lagi. 🙂

    Wa’alaikumussalam Pak Ram,
    Alhamdulillah. Semoga saya juga bisa mengambil ilmu ole-ole juga melalui blognya Bapak 😉

  5. inspiratif sekali tulisannya.
    terima kasih sudah berkunjunga ke blogku 🙂

    Alhamdulillah, terima kasih juga sudah berbalas kunjungan kesini 🙂

  6. orang yang bijak, selalunya dia dapat mengambil IKTIBAR & hikmah dari setiap kejadian…Hikmah itulah yang membuat dirinya menjadi manusia yang lebih baik, dan lembut hatinya…

    Mari kita lihat dunia ini dari sisi dimana kita dapat mengambil hikmah yang terdalam…jangan berfikir guna nafsu..berfikirlah guna hati, niscaya engkau akan mendapatkan hikmah2 dari Tuhanmu…

    Salam mas Rozy.. 🙂

    Insya Allah..amin. Terima kasih Saudaraku. Semoga kita semua diberikan kemampuan dan petunjuk oleh Allah SWT.. 🙂

  7. perumpamaan sederhana tp sangat mendalam 🙂

    btw, kaifa haluk pak? lama ndak jalan2 ke sini :”>

    Alhamdulillah, ana khoir. Terima kasih sudah menanyakan. Semoga Mbak Lady juga demikian 🙂

  8. Assalamu’alaikum

    Subhanalloh sangat menyentuh sekali……..!!
    semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya. terutama pada diri Sy sendiri.
    Lam kenal….dari Sy…

    Wa’alaikumussalam,
    Alhamdulillah, insya Allah..amin. Salam kenal kembali dan terima kasih telah berkunjung 🙂

  9. introspeksi ..
    kembali menata hati
    menata pikiran
    ditutrkan dalam perkataan
    dan dilaksanakan dalam perbuatan..
    salam kenal pak
    *salaman dari seorang new bie*

    Alhamdulillah dan salam kenal kembali. *Salaman juga dari saya yang juga seorang newbie :mrgreen: *

  10. Asl…., Alhamdulillah sehat2 smua jg kel. , amin…, sebaliknya mas gimana ?

    Wa’alaikumussalam Mas Alf,
    Alhamdulillah, saya sekeluarga sehat. terima kasih telah berbalas kunjungan 🙂

  11. Assalamu’alaikum

    tulisan-tulisan disini bagus-bagus, enak dibaca dan mencerahkan.
    Salam kenal,
    Selamat tahun baru 1429 Hijriyah
    semoga tetap berkarya, blognya saya link, terima kasih.

    wasssalam

    Wa’alaikumussalam Pak Hadi (kalo boleh saya panggil begitu 🙂 ),
    Alhamdulillah, salam kenal kembali. terima kasih atas kunjungannya. Selamat tahun baru hijriah 1429 H. Insya Allah ya pak, minta do’anya. Silakan di link, dengan senang hati dan terima kasih 🙂

  12. Bicara tentang guci, dari awal sampai akhir nasibnya cuma sebagai objek penderita. Penulis boleh saja bilang, bahwa setelah proses yang “menyakitkan” ketika ditempa, kemudian penderitaannya berakhir dan digantikan masa “bahagia” ketika dia dihias dengan warna-warni yang indah dan bla bla bla.

    Si penulis benar-benar semena-mena dari awal sampai akhir. Mempermainkan “nasib” si guci dan akal sehat pembaca, dengan menentukan secara sepihak kapan si guci disebut dianggap tersiksa dan sebaliknya kapan dia disebut bahagia. Sorry, secara jujur harus kukatakan, analogi guci ini tidak berhasil menggambarkan pesan yang ingin disampaikan si penulis artikelnya sendiri.

    btw, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas terbaca di ujung artikel ini. Trims untuk itu.

    Horas

    Terima kasih bang atas masukannya. Mungkin cara pandang kita berbeda untuk membuat analogi dari proses pembuatan guci itu. Tapi intinya, analogi guci itu hanya sebagai pengantar untuk menyampaikan pesan sesungguhnya yg ternyata akhirnya abang temukan di ujung artikel ini 🙂
    Sekali lagi terima kasih atas usaha kritis dari abang. Sebuah masukan yg berarti bagi saya. Alhamdulillah 🙂

  13. Subhanallah… bagusnya. Andai semua orang mampu mengambil hikmah/pelajaran dari apappun yang ia jumpai, spt penulis artikel ini, saya yakin indonesia mampu bangkit dari keterpurukannya..

  14. Saya sedang berusaha untuk selalu tegar setiap kali cobaan datang. Terimakasih atas artikelnya.

    Iya, kita semua sama-sama belajar untuk tegar dalam menghadapi semua ujian yg datang. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan iman dalam diri kita. Terima kasih juga atas kunjungannya 🙂

  15. Assl…ketika seseorang mendapat ujian kesengsaraan, kemiskinan, kepedihan,kelaparan,kehilangan, pkoknya yg bisa mengingatkan kita kpd-NYA, seringkali kita bisa menghadapinya, namun sebaliknya yg paling berbahaya adlh ujian kesenangan,ujian harta, tahta, atau syahwat wanita….,inilah bentuk ujian2 yg melenakan seseorang, hingga kita terjerumus kepd penghamba-an selain dari Allah…moga kita tetap istiqomah…thanks banget dah mampir di blog sy…kbr Alhamdulillah baek2 doanya sy aminkan….sebalik mas Fahkru sehat ?

    Wa’alaikumussalam Wr wb Mas Al,
    Benar mas. Makanya kita mesti dapat melihat sebuah ujian itu dalam segala keadaan, senang ataupun susah. Semoga kita tergolong orang-orang yg kuat dan lulus dalam banyak ujian yg menghampiri, baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Alhamdulillah, saya sekeluarga sehat. terima kasih atas kunjungannya 🙂

  16. Assalamualaykum wr.wb
    Inilah yg sedang mbak latihan. Tidak mudah, butuh proses untuk bersabar dlm menghadapi cobaan.

    Ketika masa cobaan sedih telah berlalu, barulah kita bisa melihat hikmah di balik cobaan itu. contohnya saja, mbak kerja di sebuah perusahaan kecil, belum lama kerja, pemilik perusahaan meninggal dunia, maka perusahaan kecil itu pun koleps (ditutup), luar biasa sedih sekali mbak saat itu.

    Tapi tidak lama setelah itu, mbak bekerja di salah satu perusahaan yg sudah maju, karir mbak meningkat, di sinilah mbak menyadari cobaan sebelumnya, sungguh kita harus pintar melihat hikmah dari sebuah cobaan dan bukan hanya sekedar kulitnya saja.

    Namun untuk belajar hikmah cobaan dan kesabaran tidak lah mudah, saat ini pun mbak masih latihan, mohon doa dari akhi agar mbak bisa sabar dan sukses dlm latihan ini.

    wassalam,
    mbak diah

    Wa’alaikumussalam wr wb Mbak Diah,
    Iya Mbak, semua butuh latihan dan tidak datang dengan sendirinya. Sama-sama mendo’akan ya Mbak, karena apa yg ditulis di atas juga merupakan harapan bagi diri saya pribadi.
    Terima kasih atas kunjungannya. Semoga Mbak sekeluarga senantiasa diberikan kesehatan dan bimbingan oleh Allah SWT 🙂

  17. Semoga setiap ujian yang hadir dalam hidup kita, semakin menambah rasa keimanan dan penghambaan kepada-Nya, menambah rasa syukur dan usaha untuk semakin mengenal-Nya, mematangkan diri dan jiwa menjadi lebih baik dalam mengarungi samudera kehidupan, sebagaimana kisah perjalanan diri sebuah guci di atas.

    Kalimat2 diatas banyak memberikan manfaat ^_^
    Thx a lot..

  18. Selamat tahun baru hijriyah 1429 H.

    Maaf baru sempat mampir lagi mas…
    Tulisan ini sangat inspiratif untuk memahami sebuah proses kehidupan hasil belajar dari Kendi atau keramik.

    Mas maaf saya belum sempat memarkir tulisan. Tapi Insya Allah seperti yang saya janjikan akan saya parkir yang jelas bukan di Lapangan Parkir Senayan heheh 🙂

    Nggak apa2 Pak kurt, jangan jadi beban. Santai aja Pak, kan nggak wajib 😆 . terima kasih sudah berkunjung lagi. Selamat tahun baru hijriah 😀

  19. Semoga setiap proses yang [pasti] menyisakan lubang-lubang [dalam hal jalan] dan ketidak-sempurnaan bentuk [dalam hal guci] senantiasa dipoles oleh-NYA melalui kesadaran kita akan setiap teguran-NYA.

    Selamat Tahun baru hijriah 1429 H

    Insya Allah…amin. Terima kasih mas Heri. Selamat tahun baru Hijriah 1429 H 🙂

  20. saya suka tulisan yang bersifat introspektif seperti ini, karena menyadarkan kita bahwa banyak sekali kelebihan yang kita punya, namun banyak pula kekurangan kita, diantara kekurangan-kelibihan kita miliki terdapat hamparan objek yang dapat dijadikan contoh sebagai pelajaran yang sangat mengena pula berharga asalkan kita memikirkannya.

    makasih tuk postingannya.

  21. Sepakat banget Mas Rozy. Guci sangat tepat dijadikan sebagai analogi untuk menggambarkan jerasnya perjuangan hidup manusia dalam menggapai harapan dan impian. Hidup bagaikan *halah sok tahu yak* cakra manggilingan alias roda yang terus berputar, sesekali di atas, sesekali di bawah. Itulah sebabnya kita diajarkan untuk hidup bersahaja, tidak berlebihan. Semoga kita bisa menjadi guci2 yang sipa menghadapi kerasnya tantangan hidup.
    Selamat Tahun Baru, Mas, semoga 2008 menjadi awal yang baik utk melakukan sebuah perubahan. Sukses buat Mas Rozy.

    Alhamdulillah, terima kasih Pak Guru Sawali. Semoga “lubang2” yg kita buat di tahun 2007 bisa kita identifikasi dan “menambalnya” dengan baik & benar di tahun 2008 nanti…insya Allah…amin. Sama-sama, sukses juga buat Pak Sawali & pendidikan indonesia 🙂

  22. “Semoga setiap ujian yang hadir, merupakan sebuah bentuk membersihan diri kita dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan”
    Ini yang selalu saya ingat dan saya jadikan pegangan disaat mendapat cobaan, bahwa dengan kesabaran Allah akan mengampuni dosa-dosa kita.
    Syukron n salam kenal

  23. Sangat menyentuh…
    Berawal dari sebuah guci…
    Begitu rumitnya pembuatan sebuah guci.
    Begitu selesai guci menjadi sebuah benda yang sangat indah, namun rapuh. Harus hati-hati dalam merawatnya. Tersenggol sedikit maka pecahlah ia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s