Karena Sesungguhnya Kaum Muslimin Bersaudara..

praying-at-station.jpgKhalifah Umar bin Khaththab ra, seorang sahabat Rasulullah SAW, adalah seorang pemimpin yang dikenal sangat adil, tegas, disiplin namun sangat humanis di zamannya. Banyak orang yang mulanya menentang islam, namun akhirnya tersadar dan insyaf karena kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khaththab.

Suatu hari, seseorang datang kepada khalifah umar seraya menyerahkan diri untuk diadili karena telah membunuh sesama muslim. Pengadilan pun digelar dan vonis pun dijatuhkan kepada orang tersebut berupa hukum qisas. Namun, sebelum hukuman diberlakukan, khalifah Umar bin Khaththab bertanya kepada terdakwa tentang permintaan terakhirnya. Si terdakwa pun berkata, “Izinkan saya pulang ke kampung halaman untuk berpamitan kepada sanak keluarga serta membayar hutang-hutang saya”. Khalifah umar pun mengabulkan permintaan terakhir si terdakwa karena dinilai masuk akal.

Namun, ada satu hal yang menjadi pertimbangan. Dikarenakan tempat tinggal terdakwa terlalu jauh, maka sang Khalifah menginginkan adanya seorang penjamin bagi terdakwa untuk di qisas jika sekiranya nanti si terdakwa akan melarikan diri. Sesaat, si terdakwa menatap kerumunan orang-orang yang tengah menyaksikan prosesi pengadilan dirinya, namun ia akhirnya tertunduk sedih, karena mendapati bahwa ia tidak mempunyai seorang keluarga pun di kota ini.

Sesaat suasana terlihat hening. Di tengah keheningan itu muncullah sosok seorang pemuda paruh baya, yang tidak lain adalah Abu dzar al Ghifari, seorang sahabat Rasulullah SAW,  seraya berkata, “Saya yang akan menjadi penjamin orang ini”. Lalu, Abu dzar pun menanda tangani surat perjanjian penjamin dan si terdakwa diperbolehkan pulang ke kampung halamannya selama tujuh hari.

Hari berganti hari hingga sampailah pada hari ketujuh kepulangan terdakwa ke kampung halamannya. Namun begitu, tidak terlihat sedikitpun tanda-tanda akan datangnya kembali si terdakwa untuk memenuhi hukumannya. Orang-orang mulai panik melihat keadaan ini. Tidak sedikit yang menangis karena melihat sahabat Abu dzar akan segera di eksekusi, meski ia sedikitpun tidak bersalah dan hanya sebagai orang yang menjamin terdakwa. Tidak sedikit pula yang kecewa terhadap terdakwa yang dinilai tidak mempunyai harga diri.

Namun, tak lama kemudian terdengar suara dari kejauhan, dan terlihat sosok seorang laki-laki yang tengah berjalan dalam keadaan sempoyongan. Ternyata tidak lain orang itu adalah si terdakwa, yang terlihat lusuh juga keletihan. Karena si terdakwa sudah hadir kembali, maka sahabat Abu dzar pun dibebaskan. kemudian sang hakim bertanya kepada si terdakwa, kenapa ia tidak memilih untuk kabur saja dan melarikan diri dari jeratan hukuman, terlebih sudah ada orang yang menjaminnya.

Si terdakwa pun berkata, “Benar, saya bisa saja melarikan diri dari hukuman ini, namun saya malu jika nanti di dalam sejarah islam terdapat seorang muslim yang ingkar janji untuk kepentingan dirinya dan tidak mau menjaga harga dirinya sebagai muslim yang bertanggung jawab” jawab si terdakwa. Saat pengakuan itu, ternyata 3 orang keluarga korban menyaksikan dan mendengarkannya. Mereka merasakan kejujuran dan ketulusan dari pengakuan si terdakwa.

Mereka yang pada awalnya berharap hukuman yang setimpal bagi si terdakwa, malah berbalik mencabut tuntutannya dengan berkata, “Kami dari keluarga korban telah memaafkan orang ini” seraya menunjuk si terdakwa. Si hakim pun lalu bertanya, “Mengapa kalian memaafkan orang ini, sedangkan ia telah membunuh saudaramu?” Para keluarga korban pun menjawab, bahwa “Sebagai muslim, kami mempunyai harga diri. Kami malu, sekiranya nanti di dalam sejarah terdapat ada seorang muslim yang tidak mau memaafkan kesalahan saudaranya sesama muslim”.

Setelah mendengar pengakuan keluarga korban, sang hakim pun kemudian bertanya kepada sahabat Abu dzar, kenapa ia sampai merelakan dirinya untuk menjadi penjamin bagi si terdakwa, seorang yang tidak ia kenal sama sekali. Sahabat Abu dzar pun menjawab, “Sebagai seorang muslim, saya malu jika nanti sejarah islam mencatat, bahwa dahulu ada seorang muslim yang sedang kesulitan dan meminta bantuan, namun tak ada seorang pun yang bersedia untuk meringankan bebannya dan meolongnya”.

Subhanallah! Begitulah gambaran keindahan umat terdahulu. Begitu terlihat bahwasanya kaum muslimin saling menyayangi satu sama lain. Saling menutupi kesusahan, saling memaafkan, saling menutupi aib, dan saling menjaga harga diri demi keyakinan yang dianutnya. Begitu besar penjagaan mereka terhadap islam sebagai agamanya, hingga mereka menilai harga diri itu bukan lagi dilihat dari pangkat dan jabatan, bukan dari kesalahan-kesalahan saudaranya, namun mereka melihatnya dari rasa keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Semoga kita bisa menarik intisari hikmah dan pelajaran dari kisah ini, untuk dapat kita teladani dan menjadi acuan dalam hidup dan kehidupan. Karena sesungguhnya, kaum muslimin adalah bersaudara..

Wallahu a’lam
(diperkaya dari buku “Di Hatinya Cuma Ada Cinta” karya Saikhul Hadi)

Creative Commons License
Sebuah Perenungan by Posts is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at zidaburika.wordpress.com.
Iklan

10 thoughts on “Karena Sesungguhnya Kaum Muslimin Bersaudara..

  1. subhanallah nic e post mas, btw gimana sih biar bisa kaya diatas ada yang om m ent terus bawahnya langsung jawab gitu?

    Alhamdulillah mas Adit…Biar komennya bisa langsung kita jawab di ruang yg sama, mas cari link sunting/edit utk tiap komen pengunjungnya, lalu di ujung kommen mereka mas tekan “b-quote” dan nanti di akhir komen mas Adit tekan “/b-quote” . Oke, itu dulu..selamat mencoba dan sukses 😉

  2. Assalamu’aalikum

    salam ukhuwah dan silaturahmi …
    dan terimakasih atas kunjungan ke blog saya.
    wassalamu’alaikum

    Wa’alaikumussalam Wr Wb,
    Salam ukhuwah dan silaturrahim kembali. Alhamdulillah dan terima kasih juga sudah berbalas kunjungan ke blog saya 🙂

  3. subhanallah..

    terima kasih tulisannya, jadi merenungi kelakuan sendiri duh..smg bs diingat terus dan memotivasi untuk memilih “the islamic way” dalam hidup dari hari ke hari. memang umat Islam itu seharusnya mewakili akhlak yang luhur yah..

    Alhamdulillah..sama-sama. Saya cuma meneruskannya lewat blog ini 🙂 . Benar, sudah seharusnya bagi muslim yg mengaku umat Nabi dan mencintai para sahabat r.hum untuk berusaha meneladani akhlak mereka. Semoga Allah SWT berikan kita kekuatan. Terima kasih atas kunjungannya 🙂

  4. Assalamu’alaikum
    lama nggak mampir ternyata banyak kesejukan disini, terima kasih atas tulisannya semoga dapat diambil hikmahnya bagi setiap yang membaca termasuk saya.
    wassalam.

    Wa’alaikumussalam wr wb Pak Hadi,
    Alhamdulillah, sama-sama Pak. Terlebih kepada saya..Terima kasih telah berkunjung kembali. Salam silaturrahim 🙂

  5. salam…pertama kali saya membaca penulisan saudara. Sangat bagus dan menarik sekali. sepatutnya bacaan ilmiah seperti inilah yang perlu kita terapkan pada anak2 remaja yang kini terlalu alpa dengan godaan dunia. Saya harap pelajaran dan ingatan yang baik ini akan sentiasa mendekatkan diri kita pada Allah s.w.t.

    Wa’alaikumussalam saudari Nurin Aiza,
    Alhamdulillah..Insya Allah. Semoga setiap langkah kepedulian terhadap sesama senantiasa diterima dan dibimbing oleh Allah SWT..amin. Terima kasih telah sudi berkunjung kemari 🙂

  6. seharusnya begitu ya mas rozy. sesama muslim harus menciptakan kedamaian belandaskan nilai-nilai kasih sayang. namun, yang terjadi di negeri ini justru sebaliknya. beda paham sedikit saja, kenapa menjadi pemicu konflik. andai kesadaran itu muncul, isalam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin benar2 akan terpancar dalam kehidupan sehari-hari.

    Iya Pak Sawali,
    Semoga kisah ini bisa kita teladani bersama karena pelakunya bukanlah siapa-siapa, melainkan para sahabat dan orang-orang sholeh yg hidup di zaman Rasulullah SAW..Insya Allah

  7. waalaikumussalam.. alhamdulillah saya dalam keadaan sehat, pak. terimakasih doanya.

    back to article.. wah, kesentil lagi nih, sbb saya termasuk org yang agak susah memaafkan org.. terutama yang telah menyakiti saya dan keluarga saya. Semoga saya bisa benar2 ikhlas memaafkan 🙂

  8. “Sebagai seorang muslim, saya malu jika nanti sejarah islam mencatat, bahwa dahulu ada “segolongan” muslim yang sedang kesulitan dan meminta bantuan, namun tak ada seorang pun yang bersedia untuk meringankan bebannya dan meolongnya”.
    Semoga masih ada yang bisa kita perbuat untuk mereka.

  9. Asl…hmmmmm…ya Islam itu sangat INDAH…..menebar KEBAIKAN, RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM…………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s