Kesombongan Yang Membinasakan

Dahulu, di kalangan bani Israil, hidup seorang penjahat. Pada suatu hari ia bertemu dengan seorang ahli ibadah (‘abid) yang juga berasal dari bani Israil. Setiap kali berjalan, si ‘abid dinaungi oleh awan. Saat bertemu dengan si ‘abid, penjahat tersebut berkata dalam hatinya, “Aku adalah seorang penjahat dan dia seorang ‘abid, biarlah aku duduk di dekatnya agar Allah merahmatiku.” Ia lalu duduk di samping ‘abid tersebut.

Pada saat itu, si ‘abid memandang rendah penjahat tersebut dan berkata dalam hatinya, “Aku adalah seorang ‘abid, sedangkan dia seorang penjahat, mana boleh dia duduk di sampingku.” Allah pun mewahyukan kepada Nabi yang hidup di zaman dan daerah itu, “Perintahkan keduanya untuk mulai beramal lagi, karena sesungguhnya telah Kuampuni penjahat itu dan Kugugurkan pahala amal si ‘abid.”

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa sewaktu mereka beranjak dari tempat duduknya, awan yang sejak dulu menaungi si ‘abid berpindah menaungi si penjahat.*

Saudaraku,

Semoga kisah di atas mampu menjadi renungan terdalam bagi kita semua untuk senantiasa berhati-hati dalam setiap gerak hidup kita ini.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melindungi dan memelihara hati kita dari sifat sombong dan merasa mulia dan lebih baik dari pada orang lain, meski rasa itu hanya sebesar biji atom, yang tak pernah kita sadari hadirnya di hati, namun akibatnya sangat membinasakan kedudukan kita dalam pandangan Allah dan menghapuskan kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan…aamiin Allahumma aamiin.

Allahumma inna nas aluka husnul khotimah, wa na’udzubika min su’il khotimah..



*Rujukan: “Inilah Jawabannya – Jawaban Atas Berbagai Persoalan Sehari-hari” oleh Habib Naufal (Novel) bin Muhammad Alaydrus, Desember 2009, Hal 135

Iklan